Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Legend, 24 Tahun Ansori Jadi Pembuat Alat Musik Drumband di Tulungagung

Anggi Septian A.P. • Senin, 21 Agustus 2023 | 17:33 WIB

 

Ansori sedang menyempurnakan terompet buatannya
Ansori sedang menyempurnakan terompet buatannya

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Usia senja tidak menghalangi Ansori untuk tetap berkarya. Lebih dari dua dekade lamanya, pria asal Desa/Kecamatan Ngunut ini menekuni pembuatan alat musik drumband. Bahkan di Agustus ini merupakan waktu untuk mengeruk keuntungan dari berbagai acara menyambut HUT Ke-78 Kemerdekaan RI.

Kecintaan pada sebuah hal ada kalanya bisa menjadi jalan datangnya rezeki. Hal inilah yang dialami Ansori, warga Desa/Kecamatan Ngunut. Kecintaannya pada drumband mendorongnya untuk membuat peralatan musiknya. Bahkan tak terasa sudah 24 tahun lamanya dia menekuni aktivitas ini.

Ditemui Koran ini ini beberapa waktu lalu, dia tampak sibuk di antara peralatan karyanya. Dia pun mengaku jika aktivitasnya ini dimulai sejak 1999 silam. Semua tidak lepas dari kecintaannya pada drumband, hingga memberanikan diri untuk membuat peralatan musik sendiri.  Bahkan, dia tercatat sebagai salah satu pelatih yang cukup diperhitungkan. “Pada akhir dekade 1990-an, saya masih melatih grup drumband yang cukup ternama. Ya lumayan banyak lah prestasinya di Tulungagung," ungkapnya.

Membuat peralatan musik tidak segampang yang dibayangkan. Begitu pun Ansori, meskipun secara otodidak dengan sering melatih pendengarannya terhadap nada. Padahal, dia hanya bermodalkan satu gitar akustik untuk melatih kepekaan. "Saat itu saya punya gitar. Secara rutin saya petik, bagaimana bunyi A, F, dan lain-lainnya sampai hafal nada-nada di semua alat musik," tuturnya.

Melatih kepekaan nada belum cukup. Dia pun akhirnya membeli marching bell. Alat inilah yang membuatnya tahu cara menentukan sebuah nada pada peralatan produksinya. "Awalnya saya beli marching bell di toko, kemudian saya lihat-lihat dengan detail bagaimana alat itu dibuat, hingga saya mengerti cara buatnya sendiri," imbuhnya.

Berjalannya waktu, dia akhirnya bisa membuat berbagai alat drumband. Bersama beberapa karyawanya, dia bisa memproduksi snare drum, bass drum, quartom, baritone, dan marching bell. "Kita itu yang sering melayani di sekolah-sekolah, baik di Tulungagung maupun luar kota. Mereka biasanya memesan satu set alat drumband," jelasnya.

Rintangan dalam menjalankan bisnis pun pernah menghampirinya. Khususnya saat pandemi Covid-19 melanda negeri ini pada 2020-2022. Usahanya pun jalan di tempat karena saat itu ada larangan untuk menggelar berbagai kegiatan. Padahal, usahanya ini bergantung pada event yang melibatkan massa lumayan banyak. "Saat Covid-19 melanda, sekolah libur dan acara-acara yang menimbulkan keramaian juga tidak diperbolehkan. Hal tersebut yang membuat bisnis kita jadi sepi saat itu. Karena pasar kita kebanyakan grup drumband sekolah," jelas pria 66 tahun ini.

Di Agustus ini pun disambutnya dengan senyum merekah. Apalagi, berbagai kegiatan sudah bisa digelar dengan bebas. Dengan begitu, dia berharap banyak pesanan alat drumband datang. "Biasanya mendekati Agustus, pelanggan banyak yang masuk, baik memesan alat ataupun sekadar servis alat saja. Yang penting bulan ini selalu saya tunggu," pungkasnya. (*/c1/rka)


Baca Juga: Ketidak Melekatan Musik dan Ideologi

Editor : Anggi Septian A.P.
#drumband #ngunut #tulungagung #Ansori #alat musik