Pemdes Penjor, Kecamatan Pagerwojo, mengawali semarak HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78, dengan malam tirakatan pada Rabu (16/8), di Aula Balai Desa Penjor. Agenda itu diikuti 100 warga, tokoh masyarakat, perangkat desa, BPD, LPM, hingga takmir masjid Desa Penjor.
Usai malam tirakatan, kemeriahan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78 masih berlanjut. Pada Minggu (20/8), ada lomba kreasi tumpeng yang diikuti oleh kelompok ibu-ibu PKK dari 20 RT dari 3 dusun, yaitu Dusun Krajan, Dusun Pabyongan, dan Dusun Selogiri. Juga ada lomba merias wajah dengan mata tertutup masker, lomba anak-anak, makan gratis antar RT, hingga pentas seni jaranan tingkat TK, SD, hingga dewasa. “Semua kesenian yang ditampilkan berasal dari Desa Penjor,” ujar Kepala Desa Penjor Sutarno (53).
Pada Senin (21/8), ada senam masal bersama warga dan perangkat desa, juga ada pembagian doorprize dan beberapa lomba. PHBN Pemdes Penjor mengusung tema 'Terus Melaju Untuk Indonesia Maju'. Untuk memeriahkan PHBN tahun ini, Pemdes Penjor bersama dengan seluruh perangkat, tokoh agama, dan seluruh masyarakat desa, BPD, LPM, hingga dan Karang Taruna Hardi Putra sangat kompak dan antusias melaksanakan kegiatan PHBN di Desa Penjor. Dalam HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78, antusias masyarakat sangat tinggi.
Harapannya, masyarakat tetap bisa kompak dan saling sinergi, sesuai slogan, ‘Guyub Rukun, Ayem, Tentrem, Mulyo lan Tinoto. Selain itu, harapannya bisa mengangkat perekonomian masyarakat.
Sedangkan, untuk pagelaran seni, lomba-lomba anak SD, TK, PAUD hingga tari-tarian bertempat di Lapangan Dusun Penjor. “Selama saya menjabat ingin melestarikan kesenian yang ada di Desa Penjor. Yaitu ingin memajukan dan meningkatkan kesenian yang ada di wilayah Desa Penjor, selain ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” harap Kades Penjor.
Dengan banyaknya kesenian di Desa Penjor, masyarakat tidak mencari kesenian dari luar desa dan cukup dari Dusun Penjor untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78. Karena kesenian yang ada di Desa Penjor sangat bervariasi, mulai shalawatan, orkes, jaranan, campursari, seni tayub, jedor, hingga barongan. Bahkan ada kelompok kesenian campursari yang manggung sampai luar kota. Misalnya, ke Ponorogo, Trenggalek, Blitar, hingga Kediri. (rin/ynu)
Editor : Intan Puspitasari