Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Angkat Tokoh Jayeng Kusuma, Ludruk Tulungagungan Ternyata Hadir di Tulungagung

Dharaka R. Perdana • Selasa, 29 Agustus 2023 | 05:11 WIB

 

SEMARAK: Secuplik adegang ludruk Tulungagung berjudul Treteg Ngujang yang dipentaskan di Pendapa Suhartini Lotu
SEMARAK: Secuplik adegang ludruk Tulungagung berjudul Treteg Ngujang yang dipentaskan di Pendapa Suhartini Lotu

KEDUNGWARU, Radar Tulungagung - SETELAH sukses menampilkan seni-tradisi wayang wong (wayang orang) dan kethoprak di Lotu’s Garden Ketanon Kedungwaru Tulungagung, kali ini Laksda (purn) Harry Yuwono bersama komunitas BunDar (mBulan nDadari) yang diasuhnya menampilkan pagelaran seni Ludruk Tulungagungan. Dengan lakon Treteg Ngujang (Kepahlawanan Eyang Jayeng Kusumo), ternyata menyedot perhatian para pengunjung sangat banyak di Pendapa  Soehartini Lotu’s Garden, Minggu malam (27/8). Sekitar 200-an orang lebih nampak menikmati pagelaran Ludruk Tulungagungan.

Bakda Isya’ para pengunjung sudah mulai berdatangan di halaman Lotu’s Garden Tulungagung dengan sayup-sayup terdengar suara gamelan yang dimainkan grup karawitan Cahyo Yuwono. Bukan hanya kalangan seniman-budayawan saja, tetapi juga para mahasiswa, para penikmat seni tradisi, dan khalayak umum, bahkan ada tamu dari luar kota (Tulungagung) seperti Blitar, Jakarta dan sebagainya. Barangkali mereka merasa penasaran; bagaimana penampilan kesenian Ludruk Tulungagungan itu? Sebab secara umum kesenian ludruk itu identik dengan basa Suroboyo-an yang lebih akrab dan lebih sering dipentaskan di daerah Surabaya, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo dan sekitarnya termasuk Kediri utara.

Memang, kesenian ludruk itu pernah eksis di Tulungagung sekitar tahun 1970-1980 an. Setelah itu hampir-hampir punah ditelan zaman di Kota Marmer itu hingga sekarang. Pada masa itu kesenian tradisional yang paling moncer yaitu kesenian kethoprak dan wayang kulit, selain seni tradisi jaranan.

Sebelum pagelaran Ludruk Tulungagungan dengan lakon “Treteg Ngujang”digelar, Renny Dyah Kurniawati Rfp selaku pembawa acara mengumumkan mengenai sarasehan budaya dengan tema “Kepahlawanan Eyang Jayeng Kusumo” yang dipandu moderator Budi Plandang Sujarwo dengan keynote speaker Laksda (purn) Harry Yuwono dan nara sumber Agus Utomo, S.Kep. Ns.

Dalam sarasehan budaya itu, Laksda (purn) Harry Yuwono selaku keynote speaker menjelaskan bahwa tujuan digelarnya kesenian Ludruk Tulungagungan dengan lakon Kepahlawanan Eyang Jayeng Kusumo tersebut untuk nguri-uri atau melestarikan kesenian ludruk agar kita masih mengingat kenangan di masa lalu. Setidaknya bahwa kesenian ludruk pernah eksis dan berkembang cukup pesat di desa-desa di daerah Tulungagung, selain di daerah-daerah di Jawa Timur seperti Surabaya, Mojokerto, Jombang, dan sebagainya. Bahasa yang dipergunakan dalam kesenian ludruk yang identik dengan basa Suroboyo-an tentu lebih mengekspresikan egaliter ketimbang kesenian wayang uwong dan kethoprak yang menjadi kebanggaan warga Tulungagung.

Bapa Harry Yuwono mengatakan bahwa pada malam itu memang ada dua agenda kegiatan yang tak terpisahkan, yakni sarasehan budaya dan pagelaran Ludruk Tulungagungan. “Secara umum, memang antara sarasehan budaya dan pagelaran (ludruk) itu sama-sama pentingnya. Hanya saja, nilai-nilai yang dapat diserap dari sarasehan budaya itu berkisar 80 persen, sedang sisanya 20 persen bersifat hiburan. Sebaliknya, kesenian ludruk 80 persen lebih didominasi hiburan atau tontonannya, sedang nilai-nilai tuntunannya sekitar 20 persen saja,” jelasnya.

Selanjutnya Bapa Harry Yuwono berpesan semoga hadhirin dapat memetik dari nilai-nilai kepahlawanan atau nilai-nilai kejuangan Eyang Jayeng Kusumo yang anti kepada penjajah Belanda.

GAYENG: Sarasehan digelar sebelum pementasan ludruk.
GAYENG: Sarasehan digelar sebelum pementasan ludruk.

Sementara itu Ki Agus Utomo menandaskan bahwa Eyang Jayeng Kusumo memang dikenal sebagai seorang yang anti kepada imperialisme dan kolonialisme Belanda. Dikenal dengan nama Raden Jayeng Kusumo, ia adalah putra RMT Djajaningrat, bupati Kadipaten Ngrowo (Tulungagung) pada tahun 1831-1855. “Pada masa itu atau sekitar tahun 1831, Kadipaten Ngrowo yang sebelumnya dikuasai oleh VOC Belanda sudah digantikan oleh penjajah pemerintah Hindia Belanda,” jelas Ki Agus Utomo.

Pada masa itu, Raden Jayeng Kusumo menduduki jabatan baru sebagai Wedana Srengat yang pada saat itu masih berada di wilayah Ngrowo. Ayahnya sendiri, RMT Djajaningrat selaku Bupati Ngrowo. “Hanya saja, pada waktu itu keadaan perekonomian di daerah Ngrowo boleh dikatakan paceklik, larang sandhang-pangan,” tutur Ki Agus yang juga pengelola wisata Gunung Budheg di Desa Tanggung, Kec. Campurdarat.

Itulah sebabnya pemerintah Hindia Belanda kemudian melaksanakan program penanaman tebu di Kadipaten Ngrowo yang kemudian dibebankan kepada Bupati RMT Djajaningrat dan putranya Raden Jayeng Kusumo selaku Wedana Srengat. Namun, karena jalan transfortasi yang menghubungkan Srengat ke Pabrik Gula (PG) Mojopanggung terhalang oleh Sungai Brantas, maka pemerintah Belanda berencana membangun treteg (jembatan) Ngujang. Tentu saja dengan melibatkan kaum pribumi melalui Bupati Djajaningrat dan Wedana Raden Jayeng Kusumjo. Dan, dalam proses pembuatan atau pembangunan jembatan Ngujang itulah kemudian terjadilah suatu insiden yang mengakibatkan tewasnya seorang tentara Belanda. Sementara yang tertuduh tak lain Raden Jayeng Kusumo, Wedana Srengat.

Kisahnya berawal ketika para pekerja (rakyat pribumi) sedang istirahat makan siang, tiba-tiba makanan mereka dilempari pasir oleh tentara Belanda. Karena kejadian itu, para pekerja pribumi kemudian melaporkan kepada Wedana Raden Jayeng Kusumo. Tentu saja, Raden Jayeng Kusumo menasihati beberapa orang Belanda agar tidak melakukan tindak semena-mena kepada rakyat pribumi. “Bayangkan bagaimana kalau pasir itu kemudian masuk ke perutmu!” demikian ucapan Raden Jayeng Kusumo sambil menunjuk kepada serdadu Belanda.

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba serdadu Belanda tersebut sakit perut sambil mengaduh perutnya seperti kemasukan pasir. Dan, tak lama kemudian si serdadu Belanda tersebut tewas.

Dari peristiwa itu, maka Raden Jayeng Kusumo kemudian diadili dalam sidang Pengadilan Belanda. Ia dituduh telah membunuh seorang tentara Belanda. Awalnya Gubernur Jenderal Belanda menjatuhkan hukuman mati kepada Raden Jayeng Kusumo. :Lalu, Patih Ngayogyakarta Kusumo Yuda selaku eyangnya dan Bupati RMT Djajaningrat selaku ayahnya meminta keringanan hukuman yang telah dijatuhkan kepada Raden Jayeng Kusumo. Setelah itu hukuman dikurangi dengan hukuman seumur hidup. Lagi-lagi Patih Kusumo Yuda dan Bupati RMT Djajaningrat meminta pengurangan hukuman. Dan, akhirnya diputuskan oleh Gubernur Jenderal bahwa Raden Jayeng Kusumo dihukum buang di suatu daerah pegunungan yang kelak disebut daerah Demuk.

SUKSES: Seluruh pemain ludruk berjudul Treteg Ngujang berada di atas pentas.
SUKSES: Seluruh pemain ludruk berjudul Treteg Ngujang berada di atas pentas.

Usai sarasehan budaya dengan tema Kepahlawanan Eyang Jayeng Kusumo, lalu dilanjutkan pagelaran Ludruk Tulungagungan dengan mengambil lakon Treteg Ngujang. Ide cerita lakon Treteg Ngujang tersebut dari Laksda (purn) Harry Yuwono. Sementara pagelaran Ludruk Tulungagungan tersebut digarap oleh sutradara Mariyadi Broto bersama komunitas BunDar (mBulan nDadari); sebuah komunitas pegiat seni-budaya yang bermarkas di Lotu’s Garden.

Mariyadi Broto yang menjadi sutradara pagelaran Ludruk Tulungagungan merasa tertantang atas ajakan Bapa Harry Yuwono untuk “menghidupkan” kembali kesenian ludruk, yaitu Ludruk Tulungagungan. Dengan bahasa bebas, ada yang menggunakan basa Suroboyo-an maupun campuran basa Tulungagung-an dalam Ludruk Tulungagungan memang hampir mirip dengan kesenian kethoprak. Hanya saja yang membedakannya yaitu iringan gamelan dengan gendhing khas ludruk Jula-Juli serta tarian remo (remong) di awal pagelaran ludruk. “Pada saat Bapa Harry mengajak main ludruk itu, waktu yang tersisa sampai hari H hanya kurang sekitar 1 bulanan. Maka kami latihan seminggu dua kali untuk mewujudkan suatu pagelaran ludruk yang setidaknya ora ngisin-isini,” kata Maryadi Broto. (*)

 

 

           

Editor : Dharaka R. Perdana