Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ludruk Tulungagungan Bertajuk “Treteg Ngujang” Jadi Pengingat Keberanian Jayeng Kusuma Melawan Belanda

Mukhamad Zainul Fikri • Selasa, 29 Agustus 2023 | 17:39 WIB
Photo
Photo

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Ludruk Tulungagungan dengan cerita ‘Treteg Ngujang’ yang dipentaskan Senin (27/8) malam kemarin menegaskan kembali kisah kepahlawanan Eyang Jayeng Kusuma dalam melawan kolonialisme Belanda. Menjadi wadah bagi para seniman dan budayawan Tulungagung untuk sama-sama nguri-uri budaya agar tidak tenggelam termakan zaman.

Dalam pementasan ludruk yang berlangsung selama kurang lebih 3,5 jam itu, menampilkan bagaimana keberanian Eyang Jayeng Kusuma melawan Belanda sampai diasingkan di daerah Demuk, Pucanglaban. Karakter Jayeng Kusuma diperankan secara apik oleh seniman Tulungagung, Brojowasesa Mariyadi Brata serta anggota komunitas karawitan Cahyo Yuwono yang memerankan tokoh-tokoh lainnya.

Acara yang dilaksanakan di Pendapa Lotu’s Garden Tulungagung itu menyuguhkan penampilan Tari Remo, Tarian Anoman hingga Jatilan khas Blambangan. Puluhan masyarakat dari semua golongan menjadi saksi pementasan yang sangat kental dengan unsur budaya tersebut. “Yang paling bebas dan bisa berimprovisasi itu ya ludruk, walaupun begitu saya menyisipkan hal lainnya (tarian Anoman) sebagai kritik sosial karena banyak seniman sudah tidak punya ruang untuk tampil,” ungkap pencetus ide Ludruk Tulungagungan ‘Treteg Ngujang’ yang juga Owner Lotu’s Garden Tulungagung, Laksda (Purn) Harry Yuwono.

Harry, -sapaan akrabnya melanjutkan bahwa cerita ‘Treteg Ngujang’ yang dibawakan bukan hanya tontonan, melainkan juga sebuah tuntunan. Poin pentingnya adalah agar masyarakat bisa memetik pesan ketokohan Eyang Jayeng Kusuma yang pada masanya sudah sangat berani melawan Belanda. Yang harus ditiru adalah semangatnya dalam membela wilayah dan negaranya yang sangat tinggi. “Larinya agar masyarakat bisa memiliki semangat bela negara,” ujarnya.

Pergelaran seni dan budaya yang secara rutin dilaksanakan setiap bulannya di Lotu’s Garden, Harry menerangkan tujuannya adalah untuk menguri-uri budaya agar tidak hilang termakan zaman. Meski sederhana, diharapkan bisa mempunyai daya tarik dan semangat untuk melestarikan budaya tetap ada ditengah-tengah masyarakat. “Saya yakin gaungnya nanti akan kemana-mana, dan akan semakin banyak orang yang mengikutinya,” ungkap purnawirawan TNI AL ini.

Pada akhirnya potensi seni dan budaya di Tulungagung itu bisa menambah value sektor pariwisata. Jadi tidak hanya mengandalkan wisata alam saja, namun juga wisata yang berbasis dengan seni dan budaya. “Nanti turis-turis itu ke sini bisa melihat seni yang ditampilkan. Dunia seni tetap hidup, uang atau perekonomian akan terangkat,” tutupnya. (nul/rka)

Editor : Anggi Septian A.P.
#tulungagung #ludruk #Treteg Ngujang #Nguri-nguri Budaya #Jayeng Kusuma