Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Hamengeti Hadeging Perdikan Tawangsari Ke-276, Pembawa Pesan Sejarah Panjang Tulungagung Bermula

Anggi Septian A.P. • Senin, 4 September 2023 | 16:36 WIB

 

MERIAH: Pawai budaya  di Perdikan Tawangsari  yang diikuti warga  setempat menjadi agenda  rutin tahunan untuk  mengingat sejarah.
MERIAH: Pawai budaya di Perdikan Tawangsari yang diikuti warga setempat menjadi agenda rutin tahunan untuk mengingat sejarah.

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Ratusan masyarakat Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru, tumpah ruah memperingati Hamengeti Hadeging Perdikan Tawangsari Ke-276. Peringatan yang sudah berlangsung selama ratusan tahun ini menyimpan nilai historis dari sejarah perkembangan pemerintahan di Tulungagung.

Seakan diajak bernostalgia, dandanan ala kerajaan masa lampau tergambar nyata di halaman Masjid Jamik Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru. Tak luput juga, puluhan prajurit dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ikut meramaikan upacara kirab budaya Hamengeti Hadeging Perdikan Tawangsari Ke-276 ini. Nilai historis dari sejarah berdirinya tanah perdikan Tawangsari ini menjadi saksi perkembangan pemerintahan di Tulungagung.

Bupati Tulungagung Maryoto Birowo mengatakan, peringatan kali ini memiliki serat historis sejarah panjang perkembangan pemerintahan di Tulungagung. Mengingat di balik sejarah panjang ini, seluruhnya terpusat kepada Kiai Haji Abu Mansur. Dia merupakan tokoh yang diamanati tugas dari Kerajaan Mataram untuk ikut membangun peradaban bangsa di tanah yang sekarang menjadi Desa Tawangsari. “Ada keterkaitan antara perdikan Tawangsari dan Tulungagung,” jelasnya kemarin (3/9).

Mendapati hal tersebut, momen semacam ini yang masuk ke dalam status sejarah kebudayaan lokal harus senantiasa dilestarikan. Maka dari itu, diupayakan agar perayaan ini dapat menjadi rangkaian acara peringatan Hari Jadi Tulungagung. “Momen seperti ini masuk ke dalam status budaya lokal. Makanya saya, ketika perayaan ini dirangkaikan dengan peringatan Hari Jadi Tulungagung, ya sangat bagus,” paparnya.

Dia mengaku, kini upaya-upaya pemerintahan daerah dalam memajukan pariwisata dan budaya menjadi salah satu prioritas. Apalagi potensi wilayah dengan kebudayaan harus saling melengkapi sehingga dapat menciptakan kemakmuran. “Bali itu bisa ramai karena kebudayaannya. Kalau pemandangan alam, saya pikir Tulungagung bisa bersaing,” ungkapnya.

Mengingat pentingnya nilai sejarah yang terkandung dalam peringatan Hamengeti Hadeging Perdikan Tawangsari ini, dia berharap agar peringatan tersebut dapat senantiasa dilestarikan. “Kalau kebudayaan ini memang penting. Ya agar generasi muda itu bisa tahu secara historis tumbuhnya pemerintahan di Kabupaten Tulungagung ini, karena salah satunya yang ada di tanah perdikan Tawangsari ini,” tutupnya.

MERIAH : Pawai yang di ikuti oleh Masyarakat Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru.
MERIAH : Pawai yang di ikuti oleh Masyarakat Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru.

Sementara itu, Kades Tawangsari, Moh. Khakul Yakin mengatakan, Kiai Haji Abu Mansur atau yang dikenal Raden Mas Tolo Diponegoro notabene berasal dari Kerajaan Mataram. Hal ini dikuatkan bahwasanya Desa Tawangsari menjadi satu-satunya desa perdikan yang memiliki kekancingan atau surat keterangan dari Kerajaan Mataram. “Di Tawangsari ada kekancingan atau SK. Walaupun di Tulungagung ini ada tiga desa eks perdikan, yakni Desa Tawangsari sendiri, Desa Winong, dan Desa Majan. Tetapi dari ketiga desa itu, yang memiliki bukti otentik berupa fisik itu ada di Desa Tawangsari,” jelasnya.

Adapun bukti fisik dari tanah perdikan tersebut berupa gapura, pendapa, masjid, dan kekancingan. Menurutnya, dalam kekancingan tersebut menyebutkan bahwasanya tanah perdikan ini diperuntukkan untuk Kiai Haji Abu Mansur. “Dalam kekancingan itu menyebutkan daerah buat Kiai Haji Abu Mansur. Tidak ada kata Tawangsari. Jadi mungkin daerahnya luas,” ucapnya.

Mengetahui hal tersebut, dia berharap peringatan Hamengeti Hadeging Perdikan Tawangsari dapat masuk ke dalam agenda Kabupaten Tulungagung. Sebab, kebudayaan lokal ini juga termasuk situs yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. “Ya harapannya peringatan ini bisa masuk ke dalam agenda Kabupaten Tulungagung,” paparnya.

Disinggung terkait dukungan pemerintahan desa dalam semarak peringatan Hamengeti Hadeging Perdikan Tawangsari ini, dia mengaku, peringatan kegiatan tersebut telah dipersiapkan dari tingkat rukun tetangga (RT). Persiapan ini dilakukan dari jauh hari.

Di sisi lain, perwakilan Pasendari/Keluarga Ndalem, Gus Abdillah mengungkapkan, Desa Tawangsari memiliki dua macam kekancingan. Adapun kekancingan terakhir yang digunakan merupakan kekancingan dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Diketahui, dahulu kala memang terdapat upacara adat yang mana masyarakat berkeliling di wilayah Tawangsari dan diiringi prajurit Mataram Islam. “Jadi dulu memang ada upacara adat berkeliling di wilayah Tawangsari dan diiringi prajurit dari Solo dan Jogja, sebagai penerus Kerajaan Mataram,” jelasnya.

Tak lain, tujuan kegiatan tersebut merupakan upaya dalam melestarikan kebudayaan dari leluhur. Hal ini dilakukan agar generasi penerus dapat mengetahui asal usul dari mana kebudayaan ini berasal. “Selain melestarikan, juga mengambil nilai-nilai spirit yang bisa diambil dari peristiwa-peristiwa masa lalu,” ucapnya.

Lanjut dia, meski kegiatan kebudayaan ini sempat terhenti akibat musim pagebluk, tetapi antusiasme masyarakat dalam ikut serta kebudayaan ini dirasa sangat antusias. “Alhamdulillah prajurit yang terlibat dalam kirab tadi juga prajurit dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ya semoga di tahun depan dapat lebih semarak lagi,” paparnya.(*/c1/rka)

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah #tawangsari #Hamengeti Hadeging Perdikan Tawangsari Ke 276 #budaya #Kiai Haji Abu Mansur