RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Meski memasuki musim panen, namun petani tembakau di Desa Wates, Kecamatan Campurdarat seakan tidak merasakan keuntungan. Musim tanam tahun ini termasuk cukup berat, karena hujan yang datang saat kemarau. Sebelumnya beberapa tembakau yang ditanam juga banyak yang membusuk. “Masalahnya bulan-bulan kemarin terjadi curah hujan yang cukup tinggi. Tanaman petani banyak yang kebanjiran dan mati,” jelas Titik, salah satu petani tembakau setempat.
Titik menyebut sekitar 50 persen tanaman tembakau di wilayah Desa Wates mengalami gagal panen. Dan panen yang saat ini dilakukan, merupakan sisa-sisa tanaman tembakau yang masih kuat hidup dengan intensitas hujan tinggi pada Juli lalu. Sudah dua tahun para petani tembakau harus menebah dada karena banyak tanaman yang gagal karena hujan yang masih turun di musim kemarau. Ditambah dengan adanya hama yang juga menjadi penyebab tanaman tembakau mati muda. “Dua tahun ini, hasil panen tembakau sepertinya terus menyusut. Padahal perawatannya juga sudah maksimal, tapi kalau terkena hujan ya sudah tidak bisa diapa-apakan” katanya.
Dari situ, sudah kelihatan bagaimana kerugian yang dirasakan oleh petani. Pada musim tanam, banyak tanaman yang mati dalam usia yang masih satu bulan. Sedangkan dalam masa panen, hanya sedikit hasilnya. Titik mengungkapkan selain rugi secara materi, petani juga sempat merugi waktu dan biaya selama musim panen tahun ini.
Titik mencontohkan lahan pertanian tembakau seluas 200 ru yang ia garap. Kalau normal, luasan lahan segitu bisa memproduksi sampai 3 ton daun tembakau. Sedangkan tahun ini, hanya seperempatnya atau sekitar 7,5 kuintal saja. Hasil panen itu masih kurang untuk menutupi biaya sebelumnya mulai dari membeli benih sampai perawatan selama tiga bulan tembakau. “Ini hitungannya saya tidak panen, hitungannya masih merugi,” tuturnya.
Titik masih sedikit beruntung karena harga tembakau terbilang cukup tinggi. Mungkin gagal panen tidak hanya dirasakan oleh petani tembakau di Desa Wates saja melainkan juga daerah lainnya. Membuat harga perkilo tembakau menjadi lebih mahal daripada biasanya. “Biasanya ada yang menadah, dirajang sendiri terus diambil pembeli untuk diecer. Karena ini menjadi kualitas tembakau yang cukup bagus,” katanya. (nul/rka)
Baca Juga: Hasil Pertanian Turun 50 Persen
Editor : Anggi Septian A.P.