RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – Kebijakan baru menghapus kewajiban skripsi sebagai satu-satunya syarat kelulusan disambut baik kalangan akademisi. Angin perubahan tersebut digadang akan menciptakan lulusan baru yang lebih berbobot. Namun, di tengah sorak sorai tersebut, tahapan publikasi jurnal sebagai tugas akhir pengganti skripsi masih menjadi kendala.
Pengamat pendidikan Tulungagung, Nur Isroatul Khusna mengatakan, akademisi baik dari mahasiswa maupun dosen menyambut baik atas kebijakan Mendikbudristek Nadiem Makarim menghapus kewajiban skripsi sebagai satu-satunya syarat kelulusan. Gebrakan secara kulturan ini menurutnya dapat membawa angin positif bagi lulusan-lulusan baru. “Ya sudah menjadi budaya ya, namanya mahasiswa tak lepas dari skripsi, tesis, hingga disertasi. Dengan kebijakan baru itu bisa membawa angin perubahan juga,” jelasnya.
Namun, dia mempertanyakan teknis penilaian dari kebijakan baru tersebut. Ketika tidak mengerjakan skripsi lalu diganti berupa produk, jurnal, projek, maupun purwarupa membutuhkan juknis jelas dalam mengonversi nilai. “Jadi ya penting untuk teknis penilaian itu,” ujarnya.
Kendati demikian, menggantikan skripsi sebagai tugas akhir dalam menyatakan kelulusan dengan tugas lain juga memiliki kesulitan yang layak diperhitungkan. Langkah-langkah dalam mengerjakan tugas akhir untuk mengganti skripsi juga tak kalah sulitnya dengan pengerjaan skripsi. “Apa dikira membuat purwarupa maupun projek itu lebih mudah, kan ya tidak. Langkah-langkahnya pasti menguras tenaga serta pikiran, tapi itu akan berimbas baik juga bagi mahasiswa,” paparnya.
Di sisi lain, tahap publikasi pada tugas akhir pengganti skripsi menjadi tahapan yang penting. Namun, menurutnya, publikasi dalam hal ini seperti dijadikan ladang bisnis. “Karena publikasi itu adalah hal yang sangat penting, tapi sekarang ini publikasi seperti dipakai sebagai ladang bisnis. Nah itu yang sangat disayangkan,” ungkapnya.
Lanjut dia, terlepas dari unsur bisnis atau pun tidak, untuk mempublikasi jurnal penelitian di lembaga yang bereputasi pasti memiliki proses yang luar biasa. Mengerjakan jurnal tersebut pun membutuhkan instrumen, eksperimen, uji coba, hingga masuk dalam peninjauan sehingga membutuhkan proses yang cukup panjang. “Hanya kampus yang memiliki akreditasi A yang bisa membuka jalur itu. Jadi, tidak ada duduk diperkuliahan, tapi membebaskan mahasiswanya melakukan riset. Intinya ya jangan kira aturan ini jadi lebih gampang,” tutupnya.
Sementara itu, salah satu mahasiswa yang lulus dengan pengerjaan jurnal, Rubi S mengatakan, proses pengerjaan jurnal untuk menuntaskan tugas akhir perkuliahannya cukup mudah. Terbilang sekitar satu bulan untuk mengerjakan jurnal hingga publikasi. “Jurnal saya itu tentang manufaktur saham. Jadi ya mengumpulkan referensi yang berkaitan hingga tersusun jurnal. Tidak lebih dari 10 lembar dan selesai kurang dari satu bulan,” jelasnya.
Dia mengaku, proses terpanjang dalam mengerjakan tugas akhir perkuliahan tersebut terletak pada tahap publikasi. Menurutnya perlu sedikit biaya agar publikasi tersebut cepat terbit. “Lebih kalau Rp 600 ribu. Apalagi kalau lembaga publikasinya internasional dan penulisnya sudah ternama bisa lebih tinggi sampai Rp 4 hingga 5 juta,” tutupnya. (ziz/c1/rka)
Baca Juga: Narkoba Masih Merajalela, Polisi Amankan 8 Pelaku pada Delapan Kasus Berbeda
Editor : Anggi Septian A.P.