RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Seorang seniman memiliki cara yang berbeda dalam berkisah kata maupun bertutur. Layaknya seniman batik bernama Setio Hadi, asal Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru. Pria 57 tahun ini banyak menuliskan cerita-cerita bijak yang ia kemas menjadi kain batik.
Ratusan kain batik tersusun rapi di Griya Batik Gayatri, di kediaman Setio Hadi, seniman batik asal Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru. Batik-batik ini dibuatnya dengan metode lukis. Terdapat perbedaan dalam proses pembuatan batik yang dilakukan Setio Hadi, yakni dengan mendeskripsikan tokoh-tokoh bijaksana sebelum kemudian dialihkan ke media batik.
Seniman Batik, Setio Hadi menceritakan, awal tertarik dengan kesenian batik ini sudah ada sejak kecil. Dahulu, dia memiliki seorang teman yang kedua orang tuanya seorang juragan batik. Pada momen itulah dia mulai akrab dengan canting, alat membuat batik. “Saya dulu punya sahabat kecil, anak dari juragan batik. Ketika sering bermain ke rumahnya, saya mulai nyaman melihat ibu-ibu nyanting maupun ngecap dari proses pembuatan batik. Saya menikmati sekali momen itu,” jelasnya Selasa (5/9).
Bermula dari sanalah, dia semakin hari semakin mendalami kesenian batik. Mulai dari proses mencari inspirasi, desain dasar, hingga pewarnaan, dia lakukan dengan kedua tangan terampilnya. Baru pada 2012, dia mendirikan rumah batik miliknya di Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru. “Setelah terjun langsung ke dunia batik ini, saya seperti menemukan jiwa saya kembali,” ucapnya.
Kini setidaknya ada 25 desain batik hasil karya pria 57 tahun ini. Di antaranya, Tiwikrama, Gumregah Kanthi Ngrembaka, Gayatri, dan Sarinah. Uniknya, dalam proses pembuatan batik-batik ini, dia terlebih dahulu menuliskan narasi atau menceritakan kisah-kisah bijak sebelum memulai melukis batik. “Saya menulisnya terlebih dahulu, seperti batik Tiwikrama itu dari kisah pewayangan. Lalu, batik Gayatri dari kisah istri Raden Wijaya Raja Majapahit, kemudian batik Sarinah dari kisah Sarinah, pengasuh Bung Karno. Jadi, saya tuliskan dulu sebelum saya tuangkan menjadi karya batik,” paparnya.
Batik dengan perkembangan motif itu ia lukis pada kain dengan jenis katun primis, sutra ATBM, hingga sutra Tiongkok. Lukisan nan elok dipadu dengan jenis kain yang berkualitas semakin menambah keindahan dari batik karya Setio Hadi ini. Adapun karya miliknya dibanderol dengan harga Rp 5 juta hingga Rp 15 juta. “Kalau jenis kainnya itu ada tiga macam yang sering saya gunakan. Ya seperti kain katun primis, sutra ATBM, dan sutra Tiongkok,” ungkapnya.
Spektakulernya, Hadi -sapaan akrabnya- kerap diundang untuk memamerkan batik hasil karyanya. Tak ayal dari pameran itu karya batik miliknya kerap dilirik desainer batik ibu kota. “Ya sering diajak ikut pameran-pameran batik, paling jauh masih di wilayah Jakarta saja, Mas,” tutupnya.(*/c1/rka)
Baca Juga: Tiga Tempat Populer Penghasil Batik Khas Tulungagung
Editor : Anggi Septian A.P.