RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Departemen Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya tengah menggandeng Pemerintah Desa Bulus, Kecamatan Bandung. Kerja sama itu diwujudkan melalui pengabdian kepada masyarakat dalam Program Pengembangan Desa Binaan (PPDB) pada Sabtu (9/9) di Balai Desa Bulus. Tema PPDB adalah Pengembangan Desa Mandiri Pupuk di Desa Bulus melalui Pengolahan Sampah Organik Menggunakan Metode Takakura.
Program pendampingan ini berlangsung selama 2 tahun. Namun, tahap awal berlangsung 3 bulan ke depan untuk melihat pengaplikasian di lapangan. Harapannya bisa menjadi solusi kebutuhan pupuk yang langka di tengah masyarakat, terutama jenis pupuk subsidi. Selain itu, juga menekan biaya produksi para petani. Dan terpenting adalah pupuk organik juga memperbaiki unsur hara yang ada di dalam tanah sehingga menimbulkan efek positif yang sangat luas. "Jadi, ketika unsur hara pada tanah diperbaiki, maka tanaman pasti tumbuh subur dan tanah juga banyak mengandung nitrogen dan oksigen yang dibutuhkan oleh tanaman," jelas Dyah Hikmawati SSi MSi, anggota Tim PPDB Unair Surabaya.
Program ini lebih fokus pada pengembangan pupuk, terutama untuk tanaman palawija. Pada tahap awal diperkenalkan dalam skala kecil atau skala rumah tangga, dan secara bertahap menuju skala yang lebih besar. Sehingga petani bisa menggunakan pupuk organik yang lebih menguntungkan. Selain pengenalan dan pengetahuan, nantinya juga ada pengembangan alat-alat yang dibutuhkan untuk percepatan proses pembuatan kompos metode Takakura. Tim PPDB Unair Surabaya juga sudah merancang mesin untuk kebutuhan pengolahan bahan-bahan sampah menjadi komposter pupuk organik. "Yang tentunya alat-alat itu nilainya tidak terlalu mahal bagi elemen masyarakat desa," jelas perempuan ramah ini.
Dalam menjalankan PPDB, harus ada sepemahaman dan frekuensi yang sama antara tim pendamping dan masyarakat. Sehingga transfer ilmu bisa terjadi dengan maksimal. Misalnya, terkait manfaat program hingga komunikasi dua arah. Pada tahap awal, tim pendamping menjangkau 30-40 petani Desa Bulus. Harapannya ketika sudah berjalan dan manfaatnya dirasakan, bisa menyebar ke semua kelompok tani terkait program desa mandiri pupuk. "Pada tahap awal ini kami bentuk team leader di petani, tidak mungkin kami berhubungan langsung dengan semuanya. Kami mengambil beberapa orang yang diharapkan bisa menggerakkan," jelas Dr Siswanto MSi, ketua Tim PPDB Unair Surabaya.
Target dari pendampingan PPDB Unair Surabaya adalah kesadaran petani terkait pupuk, yakni pupuk bisa diproduksi sendiri asalkan telaten, karena sumber bahan pupuk banyak di lingkungan sekitar dan masih jarang dimanfaatkan. Selain itu, juga memberikan pengetahuan bahwa hasil pembakaran sampah juga merusak lingkungan, terutama mencemari oksigen. "Harapannya melalui program ini bisa menjadi kebiasaan masyarakat untuk sadar terkait penjagaan lingkungan, penyediaan pupuk, hingga pengolahan tanaman," jelas pria yang menjadi Ketua Laboratorium Fisik Material Unair Surabaya ini.
Perlu diketahui, Tim PPDB Unair Surabaya terdiri dari Dr Siswanto, MSi (ketua), dengan anggota Dr Aminatun MSi; Dr Nuril Ukrowiyah MSi; Dyah Hikmawati SSi MSi; Jan Ady SSi MSi; Drs Djony Izak R. MSi; dan Moh. Nurur Rohman SSi MT.
Selain itu, Kepala Desa Bulus, Sutoyo mengucapkan terima kasih atas kedatangan Tim PPDB Unair Surabaya, karena mayoritas masyarakat Desa Bulus adalah petani dan program ini merupakan solusi terbaik terkait ketersediaan pupuk organik dan agar lahan pertanian juga subur. "Alhamdulillah, masyarakat sangat antusias dan mendukung. Semoga program yang dijalankan di Desa Bulus bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan berkelanjutan, terutama menambah pengetahuan tentang pupuk organik," jelasnya. (rin/c1/ynu)
Baca Juga: Sampaikan Keluh-kesah Lewat Hearing DPRD Trenggalek, Gapetam: Kami Sangat Puas
Editor : Anggi Septian A.P.