Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Masjid As-Sholihin, Saksi Bisu Perkembangan Islam di Desa Punjul, Kena Dampak Proyek Tol Kediri-Tulungagung

Anggi Septian A.P. • Rabu, 13 September 2023 | 17:33 WIB

 

TUNAIKAN KEWAJIBAN: Warga Desa Punjul, Kecamatan Karangrejo saat hendak melaksanakan salat berjemaah di Masjid As-Sholihin.
TUNAIKAN KEWAJIBAN: Warga Desa Punjul, Kecamatan Karangrejo saat hendak melaksanakan salat berjemaah di Masjid As-Sholihin.

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Masjid As-Sholihin di Desa Punjul, Kecamatan Karangrejo, menjadi saksi bisu perkembangan ajaran Islam di wilayah sekitar. Sayangnya, masjid satu-satunya di wilayah tersebut terpaksa dipindahkan imbas dari pembangunan tol Kediri-Tulungagung. Hasilnya, masjid yang berdiri pada 1980 ini terpaksa mengalah dan berpindah beberapa meter ke sisi utara.

Lahan tempat berdirinya Masjid As-Sholihin di Desa Punjul, Kecamatan Karangrejo, ini menjadi lahan yang telah dipetakan untuk pembangunan tol Kediri-Tulungagung. Meski telah berdiri selama 43 tahun dan menjadi saksi bisu perkembangan ajaran Islam di wilayah tersebut, masjid terpaksa mengalah dan akan dipindahkan.

Pengurus Masjid As-Sholihin, Muhammad Shafwat Qalby mengatakan, proses pembangunan tol Kediri-Tulungagung ini berimbas pada pemanfaatan lahan, salah satunya lahan di Masjid As-Sholihin. Adapun proses tersebut telah memasuki tahap identifikasi dan inventarisasi lahan serta tanaman yang tumbuh di lahan Masjid As-Sholihin. “Kemarin sudah sampai tahap itu, tapi setelah kita diundang lagi untuk sosialisasi karena ada pelebaran atau perubahan gambar awal itu. Mungkin setelah ini ada pengecekan kembali,” jelasnya Senin (11/9).

TUNAIKAN KEWAJIBAN: Warga Desa Punjul, Kecamatan Karangrejo melaksanakan salat berjemaah di Masjid As-Sholihin.
TUNAIKAN KEWAJIBAN: Warga Desa Punjul, Kecamatan Karangrejo melaksanakan salat berjemaah di Masjid As-Sholihin.

Diketahui, tahap peralihan lahan guna pembangunan tol di Masjid As-Sholihin ini masih kurang setidaknya dua tahap lagi. Mengetahui hal tersebut, dia beserta masyarakat sekitar sepakat untuk menggeser rumah ibadah tersebut ke utara. “Kalau yang di Kutoanyar itu kan sudah selesai ya, kalau di sini masih tahap itu tadi. Ya digeser ke utara hanya beberapa meter saja, dan pelebarannya nanti ke barat,” ucapnya.

Lanjut dia, respons masyarakat sendiri dalam menyikapi hal tersebut yakni tetap mengutamakan adanya rumah ibadah bagi umat muslim. Baik segi tempat dan ukuran masjid ke depannya tidak akan menjadi masalah. “Kalau respons masyarakat, yang penting tetap ada masjid. Masalah tempat atau ukuran masjid tidak masalah, penting wujud dari masjid itu. Lokasinya masih sekitar sini kok,” paparnya.

Kilas balik dari sejarah berdirinya Masjid As-Sholihin di Desa Punjul ini dibangun pada 1980 silam. Sebelumnya, pada masa tersebut, masyarakat sekitar masih banyak yang menganut kepercayaan abangan sehingga keberadaan Masjid As-Sholihin menjadi satu-satu masjid di wilayah tersebut. “Dulunya masyarakat sini kan abangan, jadi belum banyak yang kenal dengan agama dan masjid pun jarang. Hanya satu dulu yang ada di atas sana,” ungkapnya.

Lanjut dia, kondisi masyarakat pada 1980 pun sangat memprihatinkan. Sedikit sekali jemaah yang salat di Masjid As-Sholihin ini. “Masyarakat sini itu dulu juga tidak ada yang salat, apalagi salat Jumat. Kalaupun salat paling ya waktu magrib, karena memang dulu jarang,” paparnya.

Awalnya Masjid As-Sholihin memang tidak semegah sekarang. Menurutnya, dulu masih berupa bangunan kecil serupa musalla. Namun dengan keberadaan Masjid As-Sholihin pada masa waktu itu, masyarakat pun menjadi terbiasa dan mulai mengenal ajaran Islam. “Dulu itu (Masjid As-Sholihin) kecil, tidak sebesar ini. Akhirnya kita minta izin untuk membangun masjid, dan akhirnya masyarakat sekitar mulai mengenal ajaran Islam,” ucapnya.

Bahkan, hingga awal 1990-an, jemaah salat di Masjid As-Sholihin masih terbatas. Hanya jemaah salat Magrib, Isya, dan Subuh. Namun, seiring berjalannya waktu, jemaah salat di Masjid As-Sholihin semakin banyak. Kini setidaknya setiap memasuki jadwal salat ada 20 jemaah yang melaksanakan salat di masjid tersebut. “Sampai awal 1990-an itu masih terbatas jemaahnya, jadwalnya salat juga masih Magrib, Isyak, dan Subuh. Tapi Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, jemaah semakin ramai dan kini setiap salat ada 20 jemaah. Apalagi salat subuh sampai 60 jemaah,” ungkapnya.

Tak hanya itu, kegiatan keagamaan pun rutin dilaksanakan di Masjid As-Sholihin ini. Adapun seperti kegiatan istighotsah yang dilakukan setiap minggu dan khataman Alquran setiap satu bulan. “Nah, kegiatan-kegiatan keagamaan ini yang membuat masjid tersebut hidup. Semua bangunan masjid masih asli, hanya yang depan ini yang baru,” pungkasnya.(*/c1/rka)

 

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#tol kediri-tulungagung #Masjid As Sholihin #Desa Punjul