RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – Musim kemarau membuat para petani harus memutar otaknya agar lahan pertaniannya tetap menghasilkan. Bahkan, mereka harus mengeluarkan minimal Rp 100 ribu per hari untuk mengairi sawah menggunakan mesin diesel. “Mau bagaimana lagi, irigasi sudah tidak ada airnya,” kata Muhammad Alifi, warga Desa Sukowiyono, Kecamatan Karangrejo, Minggu (17/9).
Menurut dia, selama kemarau ini, dia harus mengeluarkan duit untuk mengairi sawahnya. Bahkan minimal harus merogoh kocek Rp 100 ribu untuk membeli bahan bakar mesin diesel penyedot air per hari. Itu pun cakupan luasannya belum menjangkau seluruh areal persawahan miliknya. “Itu sudah minimal, kalau lebih luas tentunya lebih banyak yang harus saya keluarkan,” tambahnya.
Pria paro baya ini tak menampik jika dirinya masih menanam padi, di saat mayoritas rekan sejawatnya memilih tanaman palawija. Namun, tanaman padinya itu dikonsentrasikan di satu titik saja. “Saya pun harus telaten memindahkan dari lokasi pembibitan ke areal persawahan yang sudah diairi. Ya semoga segera turun hujan saja,” ujarnya.
Sementara itu, Kabid Pengairan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Endra Wibawa mengatakan, kondisi irigasi yang mengarah ke areal persawahan memang berbeda jauh jika dibandingkan musim penghujan. Mayoritas memang sudah jarang terisi air. “Saat kemarau seperti ini memang masuk masa tanam (MT) 3. Sehingga kondisinya jauh berbeda dengan MT 1 atau 2 yang berada di musim penghujan,” terangnya.
Endra, sapaan akrabnya, mengeklaim bahwa kondisi ini tidak begitu merisaukan. Mengingat, jenis tanaman yang ditanam petani umumnya berupa palawija yang tidak begitu banyak membutuhkan air. Meskipun sebenarnya di beberapa wilayah di Kota Marmer juga ada yang masih menanam padi. “Untuk tanaman didominasi palawija, sehingga ketika kemarau tidak terlalu merisaukan kondisi tanaman,” tandasnya.(*/c1/rka)
Baca Juga: Musim Kemarau, Waspada Diare
Editor : Anggi Septian A.P.