TULUNGAGUNG- Ada desa di Tulungagung yang menjadi pusat warung kopi grasak. Mereka para pemilik usaha tersebut tak pernah sepi pembeli.
Hilir mudik pembeli bergantian memarkir motor dan duduk di meja terlihat ramai. Mereka bercengkerama dengan teman sebaya sambil ngobrol sana sini maupun bergurau saat minum kopi.
Ada alasan mereka tetap betah dan sering minim kopi grasak. “Sering ke sini, karena memang rasa kopi berbeda,” ungkap Firmansyah.
Dia mengaku, sensasi menikmati kopi grasak sangat berbeda. Biji yang mengandung nikotin begitu terasa. Sebab tidak benar-benar lembut digiling.
Ketika disajikan, butiran kecil biji kopi ini mirip toping terlihat di atas dicangkir. Untuk lebih merasakan, pembeli memilih mengaduk sendiri topingnya selagi masih hangat.
Jika sabar nyruput (minum) kopi grasak, biarkan beberapa lama, biji butrin kopi ini akan mengendap. “Jika tak sabar nyruput, bisa sisihkan biji kopi setelah diaduk dengan sendok kecil yang disediakan di setiap pembelian,” ungkapnya.
Jika dilihat dari peta, bisa ditempuh dari jalur Jalan Raya Karangrejo-Kauman. Dari pinggir jalan raya ini lihat tulisan Gapura Tamanan di sekitar jembatan Mbungur, Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo.
Ada jalur lain untuk menuju ke pusat warung kopi grasak di Tulungagung tidaklah sulit. Yakni lewat daerah Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.
Jika sudah menemukan, maka Anda akan melihat hamparam sawah. Lihat di sekitar sawah, jika ada parkiran motor yang padat, disitulah lokasinya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah