“DALAM berbagai kesempatan diskusi peringatan Hari Kesaktian Pancasila, saya sering ditanya oleh banyak audience, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan kesaktian Pancasila itu? Apakah yang sakti itu Pancasila nya ataukah orangnya?” demikian pantikan Budi Kastowo, pustakawan Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar dalam sarasehan budaya dengan tema Dinamika Dasar Negara dan Kesaktian Pancasila yang diselenggarakan ForSabda (Forum Sarasehan Seni & Budaya) di Lotu’s Garden, Ketanon, Kedungwaru Jumat malam (22/9/2023).
Atas pertanyaan itu, Budi Kastowo kemudian memberikan pandangannya bahwa yang sakti itu sesungguhnya orang-orang yang berjiwa dan berkarakter Pancasila, sehingga kemudian dinisbahkan dengan kesaktian Pancasila. Sebab Pancasila memang harus dihayati dan dijiwai ke dalam qalbu (roh, akal) kemudian untuk diamalkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat hingga berbangsa dan bernegara. Maka dari orang-orang yang berjiwa dan berkarakter Pancasila tersebut kemudian dapat berjuang mengantisipasi adanya pemberontakan terhadap negara serta upaya-upaya untuk mengganti dasar negara Pancasila.
Baca Juga: Peringati Hardiknas dan Harkitnas, ForSabda Tulungagung Gelar Sarasehan
Itulah sebabnya, Bung Karno sebagai penggali Pancasila yang disampaikan dalam pidato tanggal 1 Juni 1945 di hadapan BUPKI (Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) berusaha menyosialisasikan nilai-nilai Pancasila ke kancah internasional, seperti pada KAA (Konferensi Asia Afrika), GNB (Gerakan Non Blok) hingga ke markas PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) di New York Amerika Serikat.
Sarasehan budaya dengan tema Dinamika Dasar Negara dan Kesaktian Pancasila tersebut dipandu oleh MC Elis Yusniyawati (dosen UIN SATU Tulungagung) dan moderator Ki Wawan Susetyadalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada 1 Oktober 1965. Nara sumber sebelumnya Kapten Sugiarto (Danramil Kedungwaru) yang mewakili Letkol CZI Nooris Agus Rinanto SIP (Dandim 0807 Tulungagung) menjelaskan mengenai upaya pemberontakan atau kudeta terhadap NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), antara lain pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, pemberontakan DI/TII yang dipimpin Kartosuwiryo, RMS di Maluku dan sebagainya puncaknya peristiwa G30/S/PKI pada tanggal 30 September 1965. Dan, terhadap pemberontakan yang dilakukan PKI tersebut, akhirnya ABRI dan rakyat dapat mengalahkannya pada tanggal 1 Oktober 1965 yang kemudian dikenal dengan Hari Kesaktian Pancasila.
Ingatkan Tahun Politik
Dalam sarasehan budaya dengan tema Dinamika Dasar Negara dan Kesaktian Pancasila yang diselenggarakan ForSabda di Lotu’s Garden kemarin, Laksda (purn) Harry Yuwono selaku keynote speaker mengingatkan memasuki tahun politik menjelang pilpres (pemilihan presiden) dan pileg (pemilihan legislatif) tanggal 24 Pebruari 2024 ini hendaknya kita semakin berhati-hati. “Sebab biasanya banyak berita-berita yang mengacaukan keadaan, terutama yang tersebar di medsos (media sosial),” ujar Laksda (purn) Harry Yuwono selaku pembina ForSabda.
Lebih jauh, Bapa Harry Yuwono menguraikan mengenai dinamika dasar negara Pancasila sejak diusulkan oleh tiga tokoh bangsa Indonesia, Moh. Yamin, Mr. Soepomo dan Bung Karno di hadapan BPUPKI tanggal 29 Mei-1 Juni 1945. Selanjutnya rumusan dasar negara dari tiga tokoh tersebut dirumuskan dalam Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945. Sila pertama yang semula berbunyi “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” kemudian 7 kata tersebut dihapus dan diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dan, Pancasila sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 tersebut kemudian ditetapkan oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 18 Agustus 1945 sehari setelah proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.
Selanjutnya pada tahun 1978, pemerintahan Orde Baru (Orba) di bawah kepemimpinan Pak Harto menetapkan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dengan 36 butir-butir Pancasila. Pasca tumbangnya Orde Baru dan memasuki era reformasi tahun 1998, P4 tersebut telah dicabut dan tidak berlaku lagi. Setelah itu muncul lagi RUU (Rancangan Undang-Undang) HIP (Haluan Idiologi Pancasila) pada tahun 2020 yang ditolak oleh masyarakat.
Sementara itu Ki Lamidi selaku sesepuh Veteran Tulungagung menceritakan kembali mengenai pembicaraan antara Bung Karno dengan Josef Broz Tito (Presiden Yugoslavia) yang saling menanyakan mengenai nasib bangsanya masing-masing. Dalam pada itu, Presiden Tito dengan bangga mengatakan bahwa dia memiliki tentara-tentara yang berani dan tangguh untuk melindungi bangsanya. Sebaliknya, Bung Karno ketika ditanya mengenai keadaan bangsanya, beliau menjawab bahwa tidak merasa khawatir karena telah meninggali bangsanya sebuah way of life, yaitu Pancasila. Lantas bagaimana yang terjadi sesudah dua orang presiden itu meninggal dunia? Ternyata Bung Karno benar, sebab bangsa dan rakyat Indonesia tetap utuh dan bersatu-padu meski wilayah negara Indonesia terdiri ribuan pulau, banyak suku, agama yang berbeda-beda dan ras yang berbeda pula. Sebaliknya, bangsa Yugoslavia mengalami pecah menjadi 7 (tujuh) negara kecil seperti Serbia, Kroasia, Bosnia, Slovenia, Montenegro, Kosovo dan Makadenoa. Padahal keadaan negara Yugoslavia memiliki wilayah yang tidak terpisah-pisah dan etnis (suku) di negara tersebut sangat sedikit.
Forensik Pancasila
Yang menarik lagi paparan dr. Budi Yuniarto, penulis buku Forensik Pancasila yang menguraikan mengenai buku yang ditulisnya (Forensik Pancasila). Dalam kesempatan itu dia mengilustrasikan bahwa belajar sejarah itu identik dengan tanaman atau pohon. Kata sejarah berasal syajaroh atau syajaratun dari Bahasa Arab yang artinya pohon. Seperti diketahui bahwa pohon itu terdapat tiga unsur penting yaitu akar, batang atau pohonnya dan buah. Dalam konteks ini, dr. Budi Yuniarto mengontekstualkan mempelajari sejarah Pancasila identik dengan mencermati pohon.
“Sila pertama dan kedua Pancasila itu sebagai akar, lalu sila ketiga dan keempat identik dengan pohon atau batangnya, sedang sila kelima itu adalah buahnya,” ujarnya menandaskan.
Baca Juga: Angkat Tokoh Jayeng Kusuma, Ludruk Tulungagungan Ternyata Hadir di Tulungagung
Sila pertama dan kedua sebagai akar yang diharapkan menghunjam ke dalam bumi dengan kokoh (kuat), sehingga menjadikan sila berikutnya yaitu sila ketiga dan keempat sebagai batang atau pohonnya dapat tumbuh menjulang ke atas. Dan, sila kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” itu merupakan buah dari Pancasila.
Selain itu, dr. Budi Yuniarto juga mengontekstualkan Pancasila sebagai manifestasi dari gagasan Ratu Adil yang terejawantahkan melalui eksekutif, legislatif dan yudhikatif.
Yang menarik bahwa Pancasila juga sinkron dengan Pandhawa yang berjumlah lima orang, yakni Puntadewa, Wrekudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa.Satriya Pandhawa yang pertama yaitu Puntadewa ada sebutan “dewa” merujuk pada Ketuhanan. Dalam pewayangan Puntadewa merupakan titisan Bathara Darma, dewa-nya Keadilan. Maka Puntadewa identik dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan, Puntadewa yang ada unsur “dewa”-nya tadi kemudian kembali ke saudaranya yang kelima yaitu Sadewa yang juga ada “dewa”-nya. Gambaran tersebut identik dengan mubeng temu gelang atau cakra manggilingan; konsep melingkar. Puntadewa dan Sadewa sama-sama memiliki unsur “dewa”.
Dalam Pandhawa diketahui bahwa kekuatannya terletak pada yang di tengah yaitu Arjuna yang dalam pewayangan dikenal suka menjalankan tapa brata. Apa rahasianya? Yakni bahwa Arjuna memiliki panah sakti yang disebut Pasopati. Simbol Pasopati tersebut kemudian dikuak oleh dr. Budi Yuniarto bahwa Arjuna mampu menerima senjata sakti (Pasopati) tersebut karena dapat menerapkan Ajaran Hastha brata; yakni meneladani 8 (delapan) unsur alam; bumi, banyu, geni, angin, matahari, rembulan, bintang, dan samudera.
Baca Juga: Sarasehan di Candi Gayatri Gayeng , Ini Harapan yang Digaungkan Para Hadirin
Ancaman dan Musuh Pancasila
Sementara itu KH Rahardian Abdul Rosyid alias Kyai Yik, sesepuh PWNU Jawa Timur menjelaskan bahwa sesungguhnya sila-sila dalam Pancasila semuanya bersumber dari kitab suci al-Qur’an.
“Maka saya merasa heran kepada kelompok radikal Islam yang hendak mendirikan khilafah di Indonesia. Padahal negara Indonesia itu sendiri merupakan khilafah melalui musyawarah seperti sila ke-4 Pancasila,” ujar Kyai Yik sambil geleng-geleng kepala.
Pada masa Orde Baru, jelasnya, hanya dikenal dengan ekstrem kanan yang artinya radikal oleh kelompok Islam tertentu dan ekstrem kiri yang identik dengan idiologi komunis (PKI).
Namun, pada masa sekarang terdapat banyak ancaman dan musuh bagi Pancasila yaitu dari berbagai arah; ada yang dari depan dan belakang, dari kiri dan kanan, dan dari atas dan bawah. Musuh yang dari depan (muka) yaitu kapitalis, sedang dari belakang yaitu kaum buruh. Selanjutnya musuh dari kiri yaitu komunis, sedang dari kanan identik dengan kelompok radikal (khilafah). Dan, musuh yang dari atas yaitu UU yang merupakan instruksid dari atas, sedang dari bawah yaitu APH (aparat penegak hukum) yang hanya menjalankan tugasnya tanpa melihat benar-salahnya instruksi tersebut. Dan, hal itu masih ditambah lagi musuh berikutnya yaitu maraknya peredaran NARKOBA dan game online.
Sarasehan makin terlihat gayeng setelah sesi dialog atau tanya jawab dari audience yang jumlahnya lebih dari 100 orang dari berbagai kalangan. Dalam sarasehan budaya itu juga ditampilkan krawitan dari grup Cahyo Yuwono dan band Reeneo Project yang semakin menjadikan mantapnya diskusi. (Wawan Susetya).
Editor : Didin Cahya Firmansyah