RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – Jumlah kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) tembus 496 kasus pada minggu ke-34 2023.
Penyakit yang diakibatkan pergantian musim ini mayoritas diderita anak-anak. Penting untuk segera dibawa ke fasilitas kesehatan guna mengobati dan meredakan gejala yang timbul.
Plt Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani mengatakan, jumlah kasus konfirmasi penyakit ISPA di Tulungagung cukup fluktuatif.
Berdasarkan data, pada minggu ke-34 2023 ini, jumlah kasus ISPA dengan kategori Influenza-Like Illness (ILI) tembus hingga 496 kasus.
Kemudian melandai di minggu ke-35 dengan 402 kasus.
Lalu, naik kembali di minggu ke-36 dengan 484 kasus, dan kembali turun di minggu ke-37 menjadi 461 kasus.
“Kalau dilihat jumlah kasusnya ya fluktuatif, bisa naik, bisa juga turun,” jelasnya Minggu (1/10/2023).
Kasus penyakit saluran pernapasan ini, menurutnya, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Seperti, pergantian musim atau musim pancaroba yang membuat sirkulasi virus di udara semakin meningkat.
Tak hanya itu, higenitasi lingkungan juga memengaruhi aspek penularan ISPA di tengah masyarakat.
“Termasuk juga ketika di lingkungan itu ada yang terkena ISPA, ada kemungkinan bisa merambah ke yang lain. Maka perlu diperhatikan juga higenitasi lingkungannya,” ucapnya.
Disinggung ihwal klasifikasi usia penderita ISPA di Tulungagung, dia mengaku, karena ISPA ini merupakan penyakit flu, maka hampir ditemui di segala usia.
Namun jika dirincikan, penderita ISPA lebih banyak diderita oleh anak-anak. Anak-anak merupakan bagian masyarakat yang paling rentan terhadap situasi penyakit seperti ini.
“Kalau orang tua itu kan daya tahan tubuhnya kuat. Ketika merasa sakit, dia bisa makan banyak dan konsumsi obat secara mandiri. Kalau anak-anak kan tidak,” paparnya.
Mengetahui hal tersebut, dia mengantisipasi dengan langkah edukasi kepada orang tua untuk terus memperhatikan buah hatinya.
Kembali menertibkan penggunaan masker saat di keramaian dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi vitamin.
“Kalau misalnya anak-anak itu ya orang tuanya yang diedukasi,” ungkapnya.
Penyakit ISPA ini ditangani dengan metode pengobatan simtomatik. Yakni, mengobati sesuai dengan gejala yang timbul.
Dia mengimbau untuk tetap memeriksakan ke fasilitas kesehatan ketika mendapati gejala ISPA, seperti batuk, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sulit bernapas, sakit kepala, hingga lemas.
“Ya ketika mendapatkan gejala-gejala itu, segera ke fasilitas kesehatan agar dapat meredakan gejala dan menyembuhkan penyakit,” pungkasnya. (ziz/c1/rka)
Baca Juga: BMKG: Waspada Sinar UV Ekstrem Melanda, Ini Cara Proteksi Kesehatan Kulit
Editor : Anggi Septian A.P.