TULUNGAGUNG – Tak kenal maka tak sayang. Di Hari Museum Nasional kali ini, mari bersama-sama mengenal Museum Daerah Tulungagung secara lebih dekat. Berikut beberapa fakta mengenai museum ini.
Dikutip dari museum.kemdikbud.go.id, museum yang berada di Jalan Raya Boyolangu ini dulunya bernama Museum Wajakensis.
Itu merupakan museum umum yang didirikan pada akhir 1996. Museum ini berada di bawah kepemilikan Pemkab Tulungagung.
Baca Juga: Museum Daerah Tulungagung Jaga Nilai-Nilai dari Koleksi Benda Cagar Budaya dengan Konservasi
Ide pendirian museum berawal karena terdapat banyak penemuan cagar budaya di sekitar situs percandian di Tulungagung.
Pada 1856-1864, Bupati pertama Tulungagung, RM A. Sosrodiningrat membuatkan ruang kaca untuk meletakkan benda-benda tersebut di Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa.
Selanjutnya pada 1996, benda-benda tersebut dipindahkan ke bangunan museum yang sekarang karena semakin bertambahnya jumlah koleksi.
Baca Juga: Ukuran Terlalu Besar, Pemkot Blitar Batal Tambah Koleksi Pesawat di Museum PETA
Penamaan Wajakensis didasarkan pada pertimbangan bahwa di daerah Tulungagung selatan terkenal berkat temuan fosil Wajak 1 dan Wajak 2 yang kemudian dikenal sebagai Homo Wajakensis (manusia purba dari Wajak).
Jenis koleksi yang dipamerkan adalah arkeologika dan etnografika dengan koleksi unggulannya replika Homo Wajakensis.
Saat ini koleksi Museum Daerah Tulungagung mencapai 1.119 benda. Rinciannya arkeologi 134 buah, peralatan pertanian 21 buah, peralatan perikanan 18 buah, peralatan tradisional rumah tangga 55 buah, keris 28 bilah, dan uang koin kuno ada 798 keping.
Baca Juga: Mau Bangun Museum Mini di Kamulan? Ini yang Harus Menjadi Bahan Pertimbangan
Humas Museum Daerah Tulungagung, Andy Kristian Pamuji mengatakan, tingkat kunjungan museum memang tidak pasti.
Rata-rata per harinya ada 400 hingga 500 orang yang didominasi kalangan pelajar dan pemerhati budaya.
“Kalau masyarakat umum sangat jarang, paling banter satu atau dua orang,” katanya.(*/rka)
Editor : Dharaka R. Perdana