RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Pemberlakuan pembayaran sewa unit Rusunawa Jepun melalui virtual account menepis kekhawatiran adanya uang yang bocor dalam perjalanan menuju ke kas daerah Tulungagung.
Seluruh penghuni juga akan dipermudah karena tidak harus melakukan pembayaran secara manual kepada petugas Rusunawa Jepun, tetapi sudah bisa melalui smartphone masing-masing.
Pasca diluncurkannya sistem pembayaran baru sewa unit Rusunawa Jepun melalui virtual account pada Selasa (10/10) malam kemarin, terdapat perbedaan teknis yang sangat mencolok.
Baca Juga: Diresmikan Pj Bupati Heru Suseno, Pembayaran Sewa Rusunawa Jepun Tulungagung Kini Semakin Canggih
Utamanya terkait rutinitas pembayaran biaya sewa penghuni Rusunawa Jepun yang terletak di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru itu.
Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Tulungagung, Anang Pratistianto menjelaskan, sebelumnya para penghuni Rusunawa Jepun harus membayar uang sewa kepada kasir yang ada di gedung tersebut.
Artinya, mereka harus meluangkan waktu untuk membayar biaya sewa setiap bulannya. Kemudian untuk pembayaran melalui virtual account, seluruh penghuni sudah bisa membayarkan uang sewa tanpa beranjak ke kasir, hanya menggunakan smartphone kapan pun dan di mana pun tempatnya.
“Sebelumnya, pembayaran sewa Rusunawa Jepun di kasir kita, jika sudah terkumpul akan disalurkan ke kas daerah. Dengan konsep baru ini, uang sewa akan langsung dibayarkan ke Bank Jatim, kemudian langsung masuk ke kas daerah tanpa melalui kita,” jelas Anang Pratistianto setelah acara Launching Pembayaran Sewa Unit Rusunawa Melalui Virtual Account pada Selasa kemarin.
Menurut dia, cara pembayaran baru itu membuat pekerjaan semakin cepat sehingga tidak dua kali kerja.
Kelebihannya adalah perjalanan uang menuju kas daerah dipastikan bisa aman dan tidak ada yang berkurang.
Mengingat, target pendapatan asli daerah (PAD) yang dipatok dari sewa Rusunawa Jepun juga mencapai Rp 231 juta untuk tahun 2023 ini. Bahkan dalam virtual account tersebut juga ada fitur denda, jika ada penghuni rusunawa yang telat dalam membayarkan uang sewanya.
“Kita sudah tidak ikut-ikut dalam pembayaran itu, langsung masuk ke kas daerah. Nanti juga ada dendanya jika penghuni rusunawa membayar lebih dari tanggal 10 (batas akhir pembayaran setiap bulannya),” jelas Anang Pratistianto.
Sejatinya, keberadaan Rusunawa Jepun merupakan salah satu langkah yang dilakukan Pemkab Tulungagung untuk menekan angka backlog yang pada 2023 ini mencapai 56 ribu.
Setidaknya ada tujuh gedung rusunawa yang tersebar di empat titik lokasi, salah satunya adalah dua blok rusunawa di Rusunawa Jepun, Desa Ringinpitu.
Sementara untuk fasilitas-fasilitas yang ada, selama ini juga terus dilakukan perawatan maupun peremajaan. Terakhir adalah renovasi pada lantai lima Rusunawa Jepun blok satu.
Baca Juga: Ziarah Ke Makam Bung Karno, Gubernur Khofifah Indar Parawansa Singgung Kemerdekaan Palestina
Itu dilakukan agar unit-unit kamar yang masih kosong segera ditempati masyarakat yang membutuhkan.
Pun, syaratnya tidak harus masyarakat Tulungagung, tetapi juga masyarakat luar daerah yang bekerja di Tulungagung.
“Di atas anginnya kencang, akhirnya banyak plafon yang jatuh dan sebagainya. Dampaknya, unit-unit kamar di lantai tersebut banyak yang tidak terisi. Tapi ini sudah kita perbaiki, sudah kita rekayasa, mudah-mudahan tidak terjadi lagi kerusakan,” ungkap Anang Pratistianto.
Baca Juga: PDIP Kabupaten Blitar Terancam Kehilangan Satu Bacaleg, Ada Pemicunya hingga Rela Sidang
Meski sudah memiliki beberapa Rusunawa Jepun, Anang membeberkan bahwa masih berupaya mengajukan pembangunan lagi di Tulungagung melalui pendanaan dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Lokasinya adalah di Desa Ringinpitu atau di sebelah selatan dua gedung Rusunawa Jepun.
“Usulan sudah ada, tinggal menunggu keputusan dari sana (pusat). Lokasinya tetap di sini (Ringinpitu) dengan tiga lantai,” tutup Anang Pratistianto. (*/c1/rka)
Editor : Anggi Septian A.P.