Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Simpan Tiga Manuskrip Berisi Nilai Kebudayaan, Begini Isi di Dalamnya

Matlaul Ngainul Aziz • Senin, 16 Oktober 2023 | 02:00 WIB

 

 

NILAI SEJARAH: Tampak manuskrip kuno yang tersimpan di Perpustakaan Tulungagung.
NILAI SEJARAH: Tampak manuskrip kuno yang tersimpan di Perpustakaan Tulungagung.

TULUNGAGUNG– Tiga manuskrip atau naskah kuno dengan huruf-huruf aksara kaya akan serat nilai sejarah dan budaya berhasil disimpan rapi di Kabupaten Tulungagung. Hanya satu dari ketiga manuskrip tersebut berhasil diterjemahkan.

Arsiparis Muda, Dinas Perpustkaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Tulungagung, Silan mengatakan, salah satu dari tiga manuskrip tersebut ditulis pada lembaran kertas dan dua lainnya ditulis dilembaran kayu.

Yang mana ketiga menampakkan huruf-huruf aksara yang ditulis rapi. “Kita menyimpan tiga manuskrip kuno. Satu tertulis di kertas dan dua di lembaran kayu. Semuanya ditulis dengan huruf aksara,” jelasnya.

 Diketahui manuskrip yang ditulis pada lembaran kertas merupakan peninggalan dari keluarga Kanjengan (Keluarga Pringgokoesoemo). Kemudian dua manuskrip lainnya ditemukan ketika membersihkan Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso.

"Total ada tiga yang kami simpan, dimana kami meyakini ini merupakan manuskrip kuno yang memiliki nilai sejarah," ucapnya.

Manuskrip peninggalan Keluarga Kanjengan dengan tulisan aksara jawa kuno tersebut sempat diterjemahkan oleh Perpustakaan Pusponegoro di Mangkunegaran. Setelah diterjemahkan, diketahui manuskrip yang ditulis pada lembaran kertas tersebut merupakan kitab dengan judul Makrifatul Bathin.

“Kami sempat meminta bantuan dari Perpustakaan Pusponegoro di Mangkunegaran untuk menterjemahkan isi dari manuskrip peninggalan keluarga Kanjengan. Ternya manuskrip itu merupakan kitab Makrifatul Bathin,” paparnya.

Lantas dua manuskrip yang ditulis di lembaran kayu tersebut hingga kini belum diterjemahkan. Akibatnya pihaknya juga belum mengetahui apa isi yang tersurat dari manuskrip tersebut.

Menurut dia, dua manuskrip tersebut telah dilakukan perawatan sehingga tampak lebih baik dibandingkan dengan pertama kali ditemukan.

“Sudah tertata rapi, sebelumnya itu tali pengaitnya putus sehingga halamannya pisah-pisah. Untuk dua arsip berbahan lembaran kayu, salah satunya ada 220 lembar yang mana satu lembar ada dua halaman. Sedangkan satunya hanya 44 lembar dan satu lembar dua halaman,” tutupnya.

Sementara itu, Pegiat Budaya, Monis Pandu Hapsari mengatakan, berdasarkan identifikasi sementara, diketahui dua manuskrip dari lembaran kayu tersebut ditulis menggunakan aksara bali kuno.

Namun ketika dibaca manuskrip tersebut justru berbahasa jawa kuno. “Manuskrip ini unik, dari aksaranya itu menggunakan aksara bali kuno tapi kalau dibaca justru bahasanya jawa kuno,” jelasnya.

Kendati demikian, hingga kini isi dari dua manuskrip tersebut masih belum dapat diketahui. Sebab pihaknya belum melakukan penelitian secara menyeluruh pada manuskrip tersebut. Berdasarakan keterangan ahli, manuskrip ini diyakini berisi kidung atau syair lagu berbahasa jawa kuno.

"Kemarin setelah ditemukan, kami sempat menunjukkan beberapa contoh naskah manuskrip ini kepada teman pegiat sejarah lainnya, katanya ini huruf aksara bali kuno tetapi memakai bahasa jawa kuno dan berisi tentang kidung," ucapnya.

Mengetahui hal tersebut, pihaknya pun tidak mengetahui apakah kidung tersebut ditujukan untuk pemujaan atau bukan. Tak hanya itu, pihaknya juga kesulitan untuk mengetahui dari tahun berapa dua manuskrip ini dibuat.

“Kidung itu kan kalau sekarang ini seperti syair. Jadi syair itu ditujukan untuk apa juga masih belum tau. Ya karena belum dilakukan identifikasi secara utuh,” paparnya.

 Kemudian untuk manuskrip dari lembara kerta ini berisi kitab Makrifatul Bathin. Diketahui pada lembaran kertas tersebut terdapat simbol dari pabrik kertas Belanda. Yang mana pabrik kertas tersebut berdiri di sekitar tahun 1711 silam.

"Kami tentunya akan mencoba untuk menterjemahkan dua manuskrip kuno berbahan lembar kayu tersebut untuk memastikan isi dari manuskrip tersebut," tandasnya. 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #manuskrip kuno