TULUNGAGUNG- Jauh sebelum menerima amanat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tulungagung, Ahmad Muchlis, mempunyai perjalanan hidup panjang.
Dia dibesarkan di salah satu kampung yang ada di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng) tempatnya jauh dari hiruk pikuk dunia perkotaan.
Di sana, dia diasuh sang nenek sedangkan orang tuanya bekerja di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung. “Karena ikut dengan nenek, jadi masa kecil saya dulu juga membantu mencari kayu bakar di gunung,” katanya.
“Selain itu, masih mencari rumput di sawah untuk hewan ternak sapi milik paman saya agar tetap budi daya,” imbuhnya.
Dia menyebut desa tempatnya menghabiskan masa kecil itu, terdapat sekitar 10 pondok pesantren tahfidz. Sehingga, dipondokkan pada salah satu pondok pesantren (ponpes) yang ada tersebut tanpa mengesampingkan pendidikan formal yang tetap dijalankan.
Ketika pulang sekolah SD, dia mengaji kitab-kitab pondok. ”Saya juga diwajibkan untuk menghafal Alquran,” jelasnya.
Mulai dari SD sampai SMA, prestasinya di bidang akademik sangat moncer seiring hafalan Alquran yang baik. Hingga setelah lulus SMA, dirinya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar Mesir.
Namun kesempatan baik itu tidak bisa diambilnya karena kondisi yang terjadi. “Orang tua tidak menghendaki saya sekolah di sana. Karena harus menjaga orang tua di Bandar Lampung kebetulan sedang sakit. Saya ini anak lelaki satu-satunya di dalam keluarga,” jelasnya.
Batal pergi ke Mesir, dia memilih untuk melanjutkan kuliah hukum di Universitas Lampung (Unila). Dengan menempuh Pendidikan di Kota Bandar lampung dia tetap bisa berbakti kepada orang tua. “Saya dulu itu kuliah S1 cukup lama, karena waktu itu harus merawat Ayah saya yang sedang sakit. Jadi saya harus kuliah sambil bekerja juga,” tutur pria kelahiran tahun 1978 tersebut.
Setelah lulus dari Unila, dia diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kejaksaan RI pada 2005 sampai 2006 dengan penempatan Kejaksaan Negeri Tenggarong, Kalimantan Timur (Kaltim). Lepas itu karirnya didalam tubuh Kejaksaan RI terus merangkak naik dan pada September tahun 2022 secara resmi ditugaskan untuk menjadi Kajari Tulungagung.
Meski sebagai Kajari Tulungagung, dia tak pernah melupakan berbagai ilmu ketika menimba ilmu di berbagai ponpes Jateng maupun Jatim.
Tiap hari tak melupakan membaca Alquran serta berbagai kitab yang pernah dipelajari. Itu sebagai langkah dalam untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Berbagai kegiatan pengajian di luar kota serta berkunjung ke ponpes masih rutin dilakukan.”Kebiasan ketika di pesantren tidak bisa dilupakan,” ujarnya.
Sebagai bentuk menularkan ilmu, pernah diberi kesempatan untuk menjadi kotib di Masjid Al-Munawwar. “Saya ajak karaywan salat jamaah dan ngaji ketika da waktu longgar,” pungkasnya. (nul/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah