Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Nyaris Seluruh Sungai di Tulungagung Tercemar Bakteri, Bahaya Jika untuk Konsumsi Rumah Tangga

Mukhamad Zainul Fikri • Rabu, 25 Oktober 2023 | 19:00 WIB

 

TERCEMAR: Tampak Sungai Ngrowo  yang membelah Kabupaten Tulungagung. Kondisinya kini tercemar berbagai bakteri.
TERCEMAR: Tampak Sungai Ngrowo yang membelah Kabupaten Tulungagung. Kondisinya kini tercemar berbagai bakteri.

TULUNGAGUNG - Hampir seluruh sungai di Tulungagung telah masuk dalam kategori tercemar sedang. Bakteri Escherichia coli (E. coli) yang ditimbulkan dari limbah hasil pencernaan manusia atau hewan (feses, Red) menjadi penyuplai pencemaran mayor.  Dampak langsung yang bisa dirasakan adalah berbahayanya air sungai Tulungagung jika digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Bahkan, pada beberapa titik, air sungai juga menimbulkan bau yang tidak sedap. Terutama pada aliran sungai yang membentang di wilayah perkotaan Tulungagung. Jika dilihat dari warna, air sungai kawasan perkotaan juga cenderung lebih keruh.

Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tulungagung, Suroso menyebut, indeks kualitas air di Tulungagung berada di angka 58 poin. Itu berarti pencemaran sungai di Kota Marmer berada pada kategori sedang.

Faktornya cukup beragam, mulai dari limbah rumah tangga masyarakat yang dibuang ke sungai, limbah perusahaan, hingga limbah feses. “Sekarang sungai mana yang tidak tercemar, hampir seluruhnya sudah tercemar. Tinggal pencemarannya itu bagaimana, kalau pencemaran air sungai di Tulungagung masih dalam kategori sedang,” kata Suroso.

Berdasarkan kajian yang dilakukan, bakteri E. coli menyumbang sebagian besar pencemaran yang terjadi. Hadirnya bakteri E. coli di sungai-sungai Tulungagung mengindikasikan masih banyak masyarakat yang belum sadar dan masih membuang limbah hasil pencernaan ke sungai. Kotoran hewan ternak yang dibuang di bagian hulu sungai digadang-gadang menjadi salah satu biangnya.

Suroso menjelaskan, pengukuran pencemaran air sungai telah menggunakan metode yang komprehensif. Pengambilan sampel dilakukan mulai dari hulu sungai, bagian tengah sungai, sampai hilir sungai. Kesimpulannya memang mayoritas sungai di Tulungagung telah tercemar bakteri E. coli.

“Untuk menguji satu alur sungai, diambil sampel mulai dari hulu, tengah, dan hilir. Sehingga ada keterwakilannya. Memang pada bagian hulu, pencemarannya lebih sedikit daripada bagian hilir,” bebernya.

Kemudian untuk melakukan rehabilitasi terhadap pencemaran yang terjadi, agaknya cukup sulit dilakukan. Ini permasalahan yang kompleks. Harus ada kerja sama antara masyarakat, pemerintah daerah, sampai stakeholder yang terkait lainnya.

Suroso mencontohkan, seperti permasalahan pencemaran ini, memang yang membidangi adalah DLH, tetapi untuk pembuatan catchment area (daerah tangkapan air) adalah tupoksi dari perangkat daerah lainnya. “Memang harus ada kerja sama yang baik antara berbagai pihak ini. Kita juga tidak bisa berbuat banyak,” ungkapnya.

Jika tidak cepat ditangani, pencemaran yang terjadi bisa semakin parah. Pasalnya, polutan yang masuk ke sungai setiap hari terus bertambah. Apalagi saat puncak kemarau kali ini. Secara teori, sungai dengan debit air kecil akan lebih mudah dimasuki bakteri-bakteri yang bisa mencemarinya.

“Sebenarnya juga perlu pengetatan aturan terkait baku mutu limbah yang dikeluarkan oleh pabrik-pabrik itu. Intinya, limbah air itu harus diolah dahulu sebelum dibuang ke sungai,” katanya.

Dengan pencemaran yang terjadi, praktis air sungai di Tulungagung sudah tidak bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. Terutama adalah air sungai pada kawasan perkotaan. Masyarakat harus mengolahnya terlebih dahulu jika ingin memanfaatkannya.

“Sudah sejak dulu air sungai tidak bisa dibuat kebutuhan rumah tangga masyarakat kota. Kalau untuk minum, sejak dulu ya harus membeli galon atau berlangganan PDAM yang mengambil air dari intake Kedung Brubus, Kecamatan Sendang,” tutup Suroso. (nul/c1/rka)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #sungai tercemar #Sungai Ngrowo