TULUNGAGUNG- Di Kecamatan Besuki Tulungagung terdapat sebuah terowongan yang dikenal dengan nama terowongan Niyama, yang mana sebuah terowongan drainase.
Terowongan Niyama dibangun sebagai penanggulanagan saat banjir melanda di Tulungagung pada tahun 1942.
Hingga saat ini terowongan Niyama berfungsi sebagai pengendali banjir Kali Parit Raya dari Kabupaten Trenggalek dan Parit Agung dari Kabupaten Tulungagung.
Nama Niyama berasal dari bahasa Jepang yang berarti gunung akar, berasal dari terjemahan yang dibuat oleh tentara Jepang.
Tentara jepang menyebut bukit yang ditembus oleh terowongan Niyama yakni, Tumpak Oyot atau dalam bahasa Jawa berarti bukit akar.
Sejarah Terowongan Niyama
Terowongan Niyama mulai dibangun pada zaman penjajahan Jepang di Indonesia dengan sistem romusha pada Februari 1943.
Di tahun 1942, tepatnya 17 November Sungai Brantas meluap sehingga mengakibatkan sebanyak 150 desa , 9 ribu rumah, serta area pertanian terendam.
Adanya permasalahan banjir itu, pemerintah Karisidenan Kediri membangun terowongan dengan membuat saluran terbuka di wilayah perbukitan untuk membuang air di rawa-rawa ke Samudera Hindia.
Pembanguan terowongan Niyama dipelopori oleh Residen Enji Kihara, lulusan Akademi Militer Jepang.
Dengan pembangunan dilakukan secara manual dengan bahan peledak dan peralatan tangan yang dikerjakan oleh pekerja romusha.
Bulan pertama proses pembangunan telah memperkerjakan lebih dari 10 ribu romusha atau pekerja pakasa era penjajahan Jepang.
Pembangunan terowongan Niyama selesai kurang lebih satu tahun, pada bulan Juli 1944.
Editor : Didin Cahya Firmansyah