Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Imbas Proyek Tol Kediri-Tulungagung, Sulit Cari Lahan Pertanian Pengganti yang Sepadan

Mukhamad Zainul Fikri • Sabtu, 4 November 2023 | 18:00 WIB

SUBUR: Tampak persawahan di Kelurahan  Panggungrejo, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung, jadi lokasi tol Kediri-Tulungagung.
SUBUR: Tampak persawahan di Kelurahan Panggungrejo, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung, jadi lokasi tol Kediri-Tulungagung.

TULUNGAGUNG - Lahan persawahan di Kelurahan Panggungrejo, Kecamatan Tulungagung, yang terdampak pembangunan jalan Tol Kediri-Tulungagung, termasuk lahan dengan indeks pertanaman (IP) 300 atau lahan yang tergolong produktif. Guna mencari lahan pengganti dengan karakteristik sepadan dengan itu akan sulit dilakukan di kabupaten ini.

Kabid Sarana Dinas Pertanian (Disperta) Tulungagung, Edi Purwo Santoso mengatakan, salah satu ciri lahan IP 300 adalah memiliki masa tanam tiga kali dalam setahun dengan produktivitas mencapai 7 ton per hektare (ha). Namun, tidak semua lahan pertanian di Tulungagung memiliki ciri-ciri semacam itu.  Kira-kira hanya menyisakan 16 ribu ha lahan yang memiliki produktivitas tinggi. Itu pun sudah dikuasai oleh masyarakat Tulungagung.

“Jadi kalau mau cari lahan untuk tukar guling dengan kualitas yang sama, warga (Panggungrejo) bisa mencari lahan yang sudah kita cadangkan dalam cadangan pertanian pangan berkelanjutan (LPC2B). Totalnya mungkin hanya 1.000 ha. Itu di luar lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B),” jelasnya.

Secara umum, Edi menyebut ada sekitar 21 ha lahan pertanian di Tulungagung yang menjadi korban pembangunan jalan Tol Kediri-Tulungagung.

Sementara itu, salah satu warga Kelurahan Panggungrejo, Linarah, mengungkapkan keresahannya bahwa ingin mencari lahan pengganti untuk lahan sawahnya yang terdampak proyek strategis nasional itu. Menurut dia, jika harga yang ditetapkan oleh appraisal terlalu rendah, maka untuk mencari lahan pertanian baru di area perkotaan Tulungagung akan sulit.

“Katakanlah jika tanah saya yang terkena ini adalah 12 ru, uang ganti rugi yang saya dapatkan belum tentu bisa membeli lahan pertanian dengan luasan yang sama. Dari situ saja kita sudah merugi. Belum lagi jika lahan baru itu lokasinya jauh dari Panggungrejo. Setiap hari, kita harus mengeluarkan ongkos lebih untuk bertani,” katanya.

Mayoritas masyarakat sebenarnya juga tidak ingin menjual tanahnya. Dia ingin mencari lahan pertanian baru jika lahan miliknya di Panggungrejo harus direlakan untuk dibangun jalan tol itu. “Karena ini untuk kami makan sehari-hari. Jelas kami ingin mencari lahan pengganti, tapi kalau uang ganti ruginya rendah, rencana itu bagaimana bisa dilakukan,” ungkapnya.

Di sisi lain, Ketua Komisi B DPRD Tulungagung Susilowati mendorong pemkab untuk memaksimalkan lahan pengganti yang terkena jalan Tol Kediri-Tulungagung. Paling tidak, lahan pertanian yang terkena bisa ditutup kembali agar produktivitas pertanian di Tulungagung tidak turun.

“Ini masih ramai masalah kompensasi yang tidak sesuai. Kalau kita (komisi B) lebih ke bagaimana lahan pertanian yang terdampak itu bisa diganti dengan lahan produktif yang baru di wilayah-wilayah lainnya,” katanya.

Dengan demikian, secara pribadi, politikus PDI Perjuangan itu memiliki harapan bagi masyarakat yang lahannya terdampak tol untuk mencari lahan baru guna meneruskan pertaniannya. Itu agar masyarakat juga tidak kehilangan mata pencahariannya di bidang pertanian.

“Ketika mereka sudah menerima ganti untung, paling tidak seharusnya mencari lahan pertanian pengganti baru. Agar mereka tidak kehilangan lahan sawahnya,” pungkasnya. (nul/c1/din)

Editor : Dharaka R. Perdana
#tol kediri-tulungagung #lahan pertanian #tol kediri tulungagung #tol