Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jedoran: Kesenian Musik Legendaris di Tulungagung yang Mulai Ditinggalkan, Beni Harjanto: Betapa Indahnya Jika Dimainkan Anak-anak

Matlaul Ngainul Aziz • Sabtu, 18 November 2023 | 15:15 WIB
Penggagas Karyo Wantah Beni Harjanto sedang merapikan alat musik yang biasa dipakai untuk Jedoran.
Penggagas Karyo Wantah Beni Harjanto sedang merapikan alat musik yang biasa dipakai untuk Jedoran.

TULUNGAGUNG - Seni tradisional Jedor atau Jedoran adalah seni musik legendaris yang sudah ada sejak era Wali Sanga, sekitar tahun 1500 hingga 1600 Masehi.

Jedoran sendiri merupakan representasi kesenian bernapaskan Islam Jawa. Karyo Wantah, salah satu paguyuban Jedor asal Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, yang berkubang dalam permasalahan regenerasi.

Penggagas Karyo Wantah, Beni Harjanto mengatakan, langgam Jedor memiliki ciri khas masing-masing antarpaguyuban. Serapan langgam Jedor berasal dari ajaran-ajaran terdahulu.

Gendung awal-awal, mawule gendung yo la awal lage. Yake yola, yola yake yola. Ini merupakan sepatah langgam Jedor atau Jedoran dalam paguyuban Karyo Wantah.

Kesenian Jedoran setidaknya ada tujuh kepala atau tujuh lagu yang wajib dimainkan. Satu kepala bisa dimainkan selama dua hingga tiga jam.

“Itu secara umum, awalnya dulu untuk syiar Islam. Tapi karena tidak fasih, langgamnya disesuaikan dengan mulut dan pendengarannya. Semacam ada perpaduan,” jelasnya, Jumat (17/11/2023).

Kesenian Jedor telah dirintis paguyuban Karyo Wantah sejak 1994 silam. Pada masa itu, kesenian Jedor kerap mewarnai berbagai kegiatan di masyarakat.

Mulai pembangunan rumah, tasyakuran masa panen, mitoni, hingga kelahiran hewan ternak kerap dirayakan dengan menanggap Jedor.

Alat musik yang dimainkan dalam kesenian Jedoran terdiri dari enam alat musik. Seperti tipung lanang, tipung wadon, kempyang, terbang, jedor, dan gendang. Alat musiknya sendiri terbuat dari kayu nangka dan kulit hewan.

Personelnya minimal terdiri dari enam orang dan seluruhnya memegang alat musik Jedoran. Kemudian untuk penyanyi, biasanya ada personel khusus untuk bernyanyi, dan ada beberapa bagian disaut atau dinyanyikan oleh seluruh personel.

Kesenian Jedoran ini umumnya dimainkan mulai pukul 19.00 hingga 04.00 WIB dini hari.

“Kalau nada-nada tinggi itu biasanya ada yang langgam sendiri. Nah, ada beberapa bagian. Seluruh personel akan saut-menyaut dalam nyanyian itu,” paparnya.

Pria 68 tahun ini mengaku bahwa beberapa rekan sepaguyubannya telah meninggal. Diketahui, ada tiga dari enam penggagas yang telah meninggal.

Regenerasi peminat kesenian musik Jedoran pun terbilang jarang sehingga penggiatnya mayoritas telah berusia lanjut. Tentu hal ini menjadi tantangan bagi kesenian Jedor agar tetap eksis di Tulungagung.

“Saya membayangkan betapa indahnya jika kesenian Jedoran ini dimainkan anak-anak muda,” ungkapnya.

Musik Jedoran tergolong seni musik tradisional yang toleran. Artinya, segala bentuk dan jenis langgam dapat diiringi enam alat musik dalam kesenian Jedoran tersebut.

Seperti salawatan, campursari, hingga musik-musik modern bisa dikolaborasikan dengan kesenian Jedoran.(ziz/c1/rka)

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#beni harjanto #kesenian #tradisional #jedoran #jedor #legendaris #musik