Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sering Diundang Pentas di Jakarta, Yayak Priyasmara: Penting Kalau 'Kentrung Tulungagung' Itu Dikenal Luas

Matlaul Ngainul Aziz • Sabtu, 18 November 2023 | 16:00 WIB
Yayak Priasmara mewarisi seni Kentrung Tulungagung kepada generasi muda agar eksistensi seni tradisional ini tetap terjaga.
Yayak Priasmara mewarisi seni Kentrung Tulungagung kepada generasi muda agar eksistensi seni tradisional ini tetap terjaga.

TULUNGAGUNG –Eksistensi 'Kentrung Tulungagung' di kancah Nasional tak lepas dari sosok Yayak Priyasmara, seorang pegiat seni tradisional asal Kota Marmer.

Yayak Priyasmara sering kali mendapat undangan untuk menampilkan seni tradisional Kentrung Tulungagung di Ibu Kota Negara, Jakarta. 

Kini, pamor kentrung di Tulungagung tidak semoncer di tataran nasional. Padahal, kesenian ini masuk salah satu seni budaya legendaris di Kota Marmer.

Meskipun demikian, seni tradisional harus juga peka dengan perkembangan zaman. Bisa dari cerita yang dibawakan itu disesuaikan dengan kondisi saat ini.

Yayak Priyasmara, pelaku seni kentrung asal Tulungagung mengatakan, atensi atas kesenian yang digelutinya di dalam daerah memang berbeda dengan tingkat nasional.

Meskipun bukan berarti sepi tanggapan, karena secara berkala, dia tetap unjuk kebolehan di depan khalayak luas di Tulungagung.

“Tentu ada perbedaan. Kalau boleh saya mengatakan, tidak lebih baik jika dibandingkan di nasional. Khususnya pascapandemi Covid-19 mereda,” katanya kepada Koran ini.

Menurut dia, setelah mendapatkan penghargaan pada 2021 silam, dia beberapa kali diundang ke Jakarta untuk tampil.

Hal itu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memperkenalkan kentrung Tulungagung itu seperti apa. Tak mustahil banyak yang tertarik pada penampilan berikut alur cerita yang dibawakannya.

“Banyak juga yang tertarik, umumnya di Jakarta, minta saya untuk membawakan cerita klasik yang mengisahkan penyebaran agama Islam,” tambahnya.

Untuk urusan cerita, Yayak -sapaan akrabnya- mengaku tidak melulu menggunakan cerita yang lazim dipentaskan.

Baca Juga: Proyek Strategis Nasional JLS Tulungagung dan Tol Kediri-Tulungagung Tak Optimal Tangkap Peluang dan Sarana Pendukung dari Pemkab, DPRD Beri Sorotan

Bahkan, saat membuka beasiswa kentrung, dia membebaskan anak didiknya untuk membuat lakon cerita sesuai alam pikiran bocah. Karena tidak mungkin dirinya menuntut mereka untuk membawakan lakon berat.

“Ya tidak mungkin lah. Saya sendiri tidak mau membebani mereka untuk membawakan lakon pakem. Yang terpenting, mereka pernah merasakan jadi pelakon kesenian kentrung,” ujarnya lantas tertawa.

Pria berambut gondrong ini pun tidak menampik eksistensi kentrung juga harus ditunjang kepekaan pada perkembangan zaman.

Khususnya dalam hal peralatan yang digunakan. Jika umumnya hanya kendang, ketipung, dan rebana, tapi di era sekarang juga diberi alat musik lain seperti saron, gitar, dan lain sebagainya.

“Tapi ya begitu, selain alat musik utama biasanya ditempatkan di belakang. Namun, hal ini bisa membawa nuansa lain agar kentrung bisa terus eksis,” tuturnya.

Yayak tak menampik, di angan-angannya hanya ada satu keinginan yang ingin diwujudkan. Yakni, memiliki akses untuk memperkenalkan kentrung secara lebih luas.

Contohnya saat ada kegiatan di sekolah, sekiranya dia diberi kesempatan untuk tampil sekitar 30 menit. Bagi dia, waktu tersebut sudah cukup untuk menunjukkan ke khalayak luas.

“Saya memang senang jika diapresiasi dinas, tapi yang lebih penting agar kentrung itu terus dikenal luas. Apalagi, ini juga menjadi kekayaan seni budaya di Tulungagung, sehingga jangan hanya seni budaya populer yang diperhatikan. Tapi bukan berarti saya iri, yang penting pemajuan kesenian harus lebih merata,” jelasnya.

Disinggung target lainnya, pria berkulit sawo matang ini mengaku tak mau memikirkan hal yang muluk-muluk. Dia hanya ingin melestarikan kesenian yang dulu ditekuni ibunya (Mbah Gimah).

“Selagi saya mampu, kenapa tidak. Yang penting, semua bisa berjalan, dan kesenian ini jangan sampai hilang ditelan zaman,” tandasnya.(*/c1/rka)

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#tulungagung #yayak priyasmara #seni tradisional #kentrung #jakarta