TULUNGAGUNG – Seni Tayub asli Kabupaten Tulungagung punya ciri unik yang dikenal dengan gonggomino (tabuhan, Red).
Ciri unik gonggomino ini sering kali tak disadari para penonton, karena gonggomino identik dengan daerah lain. Namun mereka (penonton, Red) yang jeli, pasti mampu menyadarinya.
Keberadaan tayub tidak lepas dari kehidupan masyarakat Tulungagung. Meski, denyut nadi kehidupannya lebih banyak hidup di wilayah pinggiran.Tayub Tulungagung-an memiliki ciri unik dibanding daerah lain.
Bambang Wijanarko, salah satu penggiat seni mengatakan, secara umum tayub antara daerah satu dan lainnya identik.
Khususnya penampilan yang kasatmata. Apalagi, kesenian ini juga menjadi salah satu seni yang hidup di tengah-tengah masyarakat Jawa.
“Jika dilihat sekilas memang tidak ada bedanya, kecuali bagi mereka yang jeli dan memang sering mendatangi lokasi tayub,” jelasnya, Jumat (17/11/2023).
Bambang -sapaan akrabnya- menambahkan, salah satu ciri khas yang dimiliki tayub Tulungagung-an adalah tabuhannya yang disebut gonggomino.
Sekilas kendangannya mirip srampak jamong. Hal inilah yang tidak dimiliki tayub yang hidup dan berkembang di daerah lain.
“Kalau untuk kostum tidak ada perbedaan berarti, begitu pun gerak tarinya. Setahu saya di daerah lain ada yang memakai kebaya, tapi kalau di sini hanya kembanan,” tambahnya.
Pria berkacamata ini mengaku, kelompok tayub yang hidup di Kota Marmer mencapai lebih dari 60 kelompok, tapi tidak sampai 100 grup.
Itu pun terpecah-pecah antara grup panjak, penari, pramugari, dan lain sebagainya. Umumnya, mereka hidup dan berkembang di wilayah pinggiran dan jauh dari pusat pemerintahan.
“Penggemarnya cukup banyak. Meskipun mayoritas sepuh, tapi ada kalanya ada anak muda yang turun menari,” ungkapnya.
Bambang pun tak menampik selama ini ada stigma negatif pada tayub. Namun, hal ini coba ditampiknya dengan membuat film pendek untuk mengikis persepsi itu.
“Saat ini masih proses editing. Jika film sudah siap tayang, saya berharap bisa membuka lagi apa itu sebenarnya tayub,” tandasnya.(*/c1/rka)
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra