Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tak Lekang Oleh Zaman, Seni Tiban di Kabupaten Tulungagung Tetap Eksis di Masyarakat, Para Jagoan se-Eks Karisidenan Kediri Turut Unjuk Kebolehan

Mukhamad Zainul Fikri • Selasa, 21 November 2023 | 02:05 WIB
Seni Tiban di Desa Kates, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung. Seni warisan leluhur ini identik untuk meminta hujan.
Seni Tiban di Desa Kates, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung. Seni warisan leluhur ini identik untuk meminta hujan.

TULUNGAGUNG - Seni Tiban merupakan warisan leluhur yang indentik untuk mendatangkan hujan, hingga kini seni itu masih eksis di Kabupaten Tulungagung.

Pada Minggu (19/11/2023), Seni Tiban dilaksanakan di lapangan Desa Kates, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung. 

Warisan budaya leluhur itu ternyata masih diminati masyarakat. Bahkan, jagoan Tiban se-Eks Karisidenan Kediri turut unjuk kebolehannya.

Satu arena Tiban yang dibuat di Lapangan Desa Kates dikelilingi oleh ratusan bahkan ribuan orang.

Diatasnya, dua orang jagoan tiban dengan bertelanjang dada melakukan aksi adu cambukan satu sama lain. Punggung mereka tampak memerah, namun tidak ada raut emosi sama sekali dari keduanya.

“Acara kemarin itu ramai dan terkendali meskipun diatas arena Tiban itu adalah adu fisik,” jelas Kepala Desa Kates, Kecamatan Kauman, Suyanto.

Suyanto menjelaskan Seni Tiban sudah ada sejak lama di Desa Kates. Seni Tiban menjadi pagelaran yang wajib diadakan setiap tahun. Itu menjadi cara, agar kesenian tersebut terus bisa Lestari dan masyarakat umum bisa mengetahuinya.

“Tiban sudah lama sekali ada di Kates, bahkan sampai terbentuk paguyuban tersendiri. Tiban sudah ada disini sebelum saya lahir,” paparnya.

Sementara pada Tiban yang dilaksanakan pada hari minggu yang lalu, Suyanto menjelaskan itu merupakan cara Pemdes dan masyarakat Kates melestarikan Seni Tiban.

Selain itu, Tiban dimaksudkan untuk memperingati hari jadi Kabupaten Tulungagung yang ke-818 tahun.

“Menguri-uri budaya saja, sekalian memperingati hari jadi Kabupaten Tulungagung,” ungkapnya.

Tiban di Desa Kates sempat vakum beberapa tahun karena pandemi Covid-19. Sehingga, pagelaran kemarin menjadi yang pertama setelah pagebluk mulai melandai khususnya di Tulungagung.

Karena baru pertama kali pasca Covid-19, Suyanto menyebut antusias warga sangat luar biasa.

Lapangan Desa Kates dipenuhi oleh ribuan masyarakat yang ingin melihat seperti apa aksi para jagoan Tiban diatas arena yang dibuat.

“Masyarakat dan peserta Tiban sangat antusias sekali, semangat mereka luar biasa. Apalagi banyak peserta Tiban yang berasal dari luar Tulungagung seperti Kediri, Blitar ataupun Trenggalek,” ungkapnya.

Suyanto mengatakan seni Tiban ini sejak dulu memang diidentikan untuk meminta hujan saat musim kemarau.

Sehingga pertunjukannya selalu dilaksanakan saat puncak musim kemarau seperti saat ini. Tiban mempertontonkan adu kekuatan antara dua orang yang masing-masing membawa senjata berupa cambuk dari lidi daun aren.

Dari pantauan ini, Seni Tiban yang digelar juga mengundang banyak pedagang yang berusaha meraup untung dari acara tersebut.

Ramainya penonton yang hadir memberikan berkah tersediri kepada setiap pedagang yang membuka lapaknya.

Salah satu penonton yang hadir, Damar tidak berhenti bersorak sorak saat ada dua orang saling mengadu kekuatannya.

Saat ditanya, pria asal Desa Jarakan, Kecamatan Gondang itu mengaku cukup kagum dengan para jagoan tiban yang seakan baik baik saja meski punggung mereka berwarna merah.

“Mereka ini luar biasa, padahal punggungnya berwarna merah semua. Tapi sepertinya tidak ada yang merasakan sakit dan malah cenderung senang,” katanya. (nul/tra)

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#kediri #tulungagung #tradisional #tiban