Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dapat Pesan Lewat Mimpi, Agus Utomo Tergerak Lestarikan Gunung Budeg Tulungagung, Kini sudah 20 Tahun Lamanya...

Mukhamad Zainul Fikri • Jumat, 15 Desember 2023 | 03:15 WIB
Agus Utomo, pria yang sudah 20 tahun gigih melestarikan Gunung Budeg Tulungagung. Awalnya ia mendapat pesan dari mimpi...
Agus Utomo, pria yang sudah 20 tahun gigih melestarikan Gunung Budeg Tulungagung. Awalnya ia mendapat pesan dari mimpi...

TULUNGAGUNG - Agus Utomo mewakafkan dirinya untuk merawat Gunung Budeg. Sudah 20 tahun lamanya.

Perjalannya untuk mengawali merawat salah satu gunung di Tulungagung itu pada tahun 2003 silam diawali dengan perang batin sampai mendapatkan pesan lewat mimpi.

Ya, tahun 2003 menjadi tahun pertama Agus Utomo dengan mantab ingin merawat Gunung Budeg, sebuah gunung yang berada di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat.

Koran ini berkesempatan untuk mewawancarai pria yang akrab disapa Agus itu Rabu (14/12/2023) lalu di salah satu gubug yang ada di kaki Gunung Budeg.

Saat wawancara itu, Agus menceritakan banyak hal. Termasuk perjalannya saat pertama kali memilih untuk mengabdikan diri melestarikan Gunung Budeg.

Ceritanya diawali pada suatu malam jumat ditahun 2000, saat itu Agus bermimpi mendapatkan perintah untuk menanam di Gunung Budeg.

Pada mimpi yang pertama itu, masih ia anggap sebagai bunga tidur saja sehingga belum perintah dalam mimpi itu belum direalisasikan. Namun yang aneh, Agus mendapatkan mimpi yang sama pada 2001 dan 2002.

“Kondisinya juga sama, mimpi itu terjadi pada malam jumat sekitaran pukul 01.00 dini hari. Kondisinya juga sama-sama hujan disertai suara petir yang sahut-sahutan,” ungkapnya.

“Itupun saya sebenarnya masih kurang percaya, karena saya itu sebenarnya tidak gampang percaya dengan mimpi, saya anggap itu adalah bunga tidur semata,” sambung Agus.

Sampai tiba disuatu sore di tahun 2003, rumahnya yang berada dibilangan Desa Tanggung didatangi oleh sesosok pria tua, memakai pakaian serba hitam, menggenakan capil dan tanpa alas kaki.

Sosok tersebut memberikan pesan kepada Agus untuk segera memulai menanam di area Gunung Budeg.

“Pesannya sosok kakek itu begini, Ngger, openono Gunung Budeg tandurono, ojo takon opahe opo, westo lek awakmu manut besok bakal penak sak turun-turunmu (Nak, rawatlah Gunung Budeg tanamilah, jangan tanya bayarannya apa, sudahlah kalau kamu nurut suatu saat akan mendapatkan kemudahan sampai anak cucumu),” ujar Agus menirukan pesan yang diberikan oleh sosok tua yang datang kerumahnya.

Setelah mendapatkan pesan lewat mimpi sampai didatangi sosok pria tua tersebut, Agus benar-benar bingung apa yang harus dilakukan.

Kebingungannya adalah mulai dari mana untuk merawat gunung sebesar itu, apa saja tanaman yang harus ditanami, dan siapa orang yang bisa diajak melestarikannya.

“Karena dulu itu saya berfikir kalau mengajak orang untuk mulai melestarikan Gunung Budeg itu apa ada yang mau. Pastinya jarang sekali orang yang mau peduli,” ungkapnya.

Masih pada tahun 2003, Agus secara mantab mewakafkan diri untuk merawat Gunung Budeg.

Untungnya juga, diawal ada sekitar 40 orang yang mau bersama-sama ikut melestarikan kendati berjalannya waktu hanya menyisakan 9 orang saja termasuk Agus.

Diawal, 9 orang itu mulai menanam pohon disebelah utara Gunung Budeg, dan berjalannya waktu sampai tahun 2023 ini, seluruh area Gunung Budeg sudah terpenuhi dengan vegetasi hingga 90 persen untuk tutupan lahannya.

Padahal sebelumnya saat belum ada Gerakan merawat Gunung tersebut, vegetasi yang ada diarea Gunung Budeg hanya 20 persen saja atau sangat gersang.

Dulu, jika turun hujan, masyarakat sekitar harus mengungsi ke tempat lain karena takut ada batu yang jatuh kebawah. Namun kini, semua kekhawatiran itu sudah hilang karena pohon yang sudah banyak tertanam.

“Awal menanam dulu sempat juga dicurigai oleh orang Perhutani, mereka takut saya ini ingin menguasai gunung. Menurut saya itu hal yang wajar, karena mereka belum paham maksud saya yang sebenarnya seperti apa,” ungkapnya.

Agus menambahkan memang banyak hal yang harus dikorbankan, termasuk menyisikan 70 persen gajinya untuk melakukan pelestarian terhadap Gunung Budeg.

Dan setelah Gunung Budeg semakin berkembang, Agus ingin pemerintah mau membuka hati untuk ikut merawatnya.

Pada saatnya nanti, ia juga ingin beristirahat merawat Gunung Budeg dan berharap akan ada regenerasi seseorang atau instansi yang melanjutkan apa yang dilakukannya selama ini.

“Saya datang baik-baik, suatu saat saya akan pamit secara baik-baik juga,” tuntas Agus.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#feature #tulungagung #Sosok #gunung budeg #agus utomo