TULUNGAGUNG – Jumlah ruang terbuka hijau (RTH) di Tulungagung dipastikan tidak akan mengalami penambahan. Paling tidak sampai penghujung 2024 mendatang.
Karena minimnya anggaran yang ada, rencana pembangunan RTH baru yang dilakukan pada tahun depan sama sekali tidak ada.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tulungagung, Deddy Eka Purnama menyebut, sebenarnya keberadaan belasan RTH di Tulungagung mendapatkan gelontoran dari APBD Tulungagung sekitar Rp800 juta.
Hanya saja, anggaran tersebut memang dikonsentrasikan untuk melakukan perawatan rutin total 14 RTH selama satu tahun penuh dan bukan untuk melakukan pembangunan baru.
“Tahun depan 2024 sementara belum ada pembangunan baru titik RTH. Sekarang yang sudah ada itu terdapat 14 titik,” jelas Deddy, saat ditemui di kantornya, Jumat (15/12/2023).
Sementara dana Rp800 juta tersebut, akan dimaksimalkan untuk melakukan perawaran rutin yang sifatnya minor saja.
Itu seperti perawatan pompa ataupun pipa air, mengganti tanaman, perbaikan alat potong rumput ataupun pembelian bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional.
Sementara disisi lain, Deddy mengamini beberapa RTH di Tulungagung sudah waktunya memerlukan rehabilitasi mayor ataupun penambahan sarana bermain baru.
“Seperti taman hutan kota (Huko) sama RTH di Moyoketen itu sebenarnya kan sudah waktunya di rehabilitasi,"
"Disana banyak sarana bermain yang sudah rusak dan sudah saatnya dilakukan perbaikan atau penambahan,” ungkapnya.
Jika melihat anggaran yang ada, Deddy juga memastikan beberapa RTH yang berada dalam kondisi memprihatinkan itu kondisinya akan tetap sama sampai tahun 2024 berakhir.
Kecuali, jika ada tambahan anggaran atau bantuan keuangan selain dari APBD Tulungagung yang bisa digunakan untuk memperbaikinya.
“Sementara belum ada pengadaan fasilitas baru lagi ataupun rehabilitasi secara mayor,” katanya.
Maka jika harus dibandingkan, rehabilitasi bagi RTH yang kondisinya memprihatinkan itu masih lebih penting daripada membangun RTH baru di Tulungagung.
Dia menjelaskan selain memerlukan anggaran yang tidak sedikit, pembangunan RTH baru harus disertai komitmen yang kuat dari daerah, pemerintah desa/kelurahan sampai masyarakat dimana RTH itu berada untuk merawatnya.
“Selain membutuhkan biaya yang tidak sedikit, membangun taman itu juga memerlukan biaya perawatan yang tidak sedikit,"
"Karena taman berbeda dengan gedung yang mungkin bisa dibiarkan beberapa tahun, setiap tahun bahkan bulan taman harus ada perawatan rutinnya,” tutupnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra