TULUNGAGUNG - Drama musikal cerita kelahiran Tuhan Yesus ditampilkan saat perayaan Natal bersama Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) jemaat di Pepanthan Ngranti, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, pada Minggu (24/12/2023) malam.
Cerita itu mengandung pesan suka cita Natal, sekaligus bekal menghadapi pergolakan dunia yang kini terus berubah.
Suasana khidmat mengiringi ibadah natal tahun 2013 di GKJW Pepanthan Ngranti dengan diikuti ratusan jemaat.
Dari pantauan koran ini, sejak Minggu sore, berbagai pujian Natal dinyanyikan oleh seluruh jemaat yang hadir.
Pendeta GKJW Jemaat Tulungagung, Lipta Febriastutie mengatakan malam menjelang Natal difokuskan untuk perayaan yang diisi oleh beberapa agenda.
Mulai dari pujian-pujian natal bersama seluruh jemaat, prosesi natal penyalaan lilin, pemberian pesan natal sampai drama musikal.
Lipta menjelaskan drama musikal yang dibawakan yaitu tentang kelahiran Tuhan Yesus di dunia ini.
Diceritakan, sosok Maria yang diberikan kepercayaan menghadirkan Kristus dari rahimnya. Meski bukan karena persetubuhan dengan manusia melainkan murni karya Allah.
“Dan sebenarnya saat itu Maria memiliki tunangan yaitu Yusuf. Dalam ceritanya sebenarnya Yusuf sempat ingin meninggalkan Maria karena itu merupakan kondisi yang sulit bagi manusia biasa,” tutur Lipta.
Secara singkat, kelahiran Yesus di dunia juga ditentang oleh Raja Herodes. Seorang raja yang dulu menguasai tanah Yudae dan ia ingin menjadi satu-satunya raja yang berkuasa.
Raja Herodes memerintahkan kepada prajuritnya untuk membunuh semua bayi ditempat itu, harapannya untuk membunuh bayi Yesus.
“Raja Herodes dalam ceritanya tidak bisa menerima juru selamat. Karena dia takut kekuasaannya menjadi terancam,” jelas Lipta.
Pada akhirnya, bayi Yesus berhasil ditemukan oleh orang-orang Majus di dalam palungan.
Orang-orang Majus kemudian diberikan mimpi untuk tidak memberitahukan Raja Herodes dimana bayi Yesus berada dan menyelamatkannya.
Dari cerita yang dibawakan oleh anak-anak, remaja, hingga orang dewasa jemaat GKJW Tulungagung, Lipta mengingatkan bahwa natal tahun ini tidak hanya tentang damai di bumi. Tapi juga tentang kemulyaan Allah Bapa.
“Kami dipanggil untuk memulyakan Allah Bapa dengan sikap hidup yang baik, sikap yang memulyakan tuhan, sehingga damai sejahtera akan dicurahkan kepada orang-orang yang percaya,” katanya.
Lipta menambahkan natal tahun ini bisa menjadi bekal untuk menghadapi pergolakan dunia yang berubah-ubah.
Seperti dalam hal ekonomi dan politik, Natal memberikan bekal agar tidak sampai kehilangan damai dan sejahtera.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra