Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Kisah Candi Penampihan Tulungagung yang Jarang Diketahui

Eka Fitria Lusiana • Sabtu, 13 Januari 2024 | 14:00 WIB
Kisah cinta bertepuk sebelah tangan dalam kesejarahan Candi Penampihan, Kabupaten Tulungagung.
Kisah cinta bertepuk sebelah tangan dalam kesejarahan Candi Penampihan, Kabupaten Tulungagung.

TULUNGAGUNG - Kabupaten Tulungagung menjadi tempat lahirnya berbagai macam situs sejarah yang tersimpan kisah-kisah didalamnya.

Candi Penampihan, sebuah candi yang menyimpan sejarah tentang kisah cinta bertepuk sebelah tangan (cinta ditolak, Red) hingga dikenal dengan Candi Asmoro Bangun.

Dilansir dari Ditjen Kebudayaan, cikal-bakal Candi Penampihan ini berawal dari seorang pembesar Kerajaan Ponorogo Wengker. Kala itu ia sedang gandrung dengan pesona Putri Kediri, Dewi Kilisuci.

Pembesar itu ingin melamar Dewi Kilisuci. Ditengah perjalanan, ia mengutus seorang kurir untuk menyampaikan maksud kedatangannya ke Kediri.

Namun kurir itu kembali dengan membawa pesan bahwa Dewi Kilisuci menolak lamarannya. Mendengar penolakan itu, Pembesar Kerajaan Ponorogo Wengker gundah. 

Ia enggan kembali ke kampung halaman, ia pun mendirikan candi sebagai ejawantah perasaannya ke Dewi Kilisuci. Candi itu kemudian dikenal dengan Candi Penampihan. Kata penampihan berasal dari kata 'tampik' yang berarti 'tolak'.

Rentang waktu itu, menurut Hermawan, Candi Penampihan merupakan candi tertua di kabupaten Tulungagung.

“Untuk melihat angka tahunnya ya, kelihatannya memang tertua masalahnya Candi Penampihan adalah candi peninggalan Mataram Kuno dan untuk selanjutnya-kan masih digunakan Kerajaan Singosari sampai Majapahit,” Ungkapnya.

Selain memendam kisah cinta bertepuk sebelah tangan, Candi Penampihan ini memiliki pernanan penting bagi Kabupaten Tulungagung, seperti yang disampaikan oleh juru pemelihara.

“Mungkin karena sudah dikatakan tanah bidikan, disini sudah berhak mengatur pemerintahannya sendiri-kan, jadi mungkin itu ada hubungan sudah pemerintahan terus akhirnya tulungagung kan ber-pemerintahan juga gitu saling berhubungan,” Jelas Hermawan, masih dikutip dari tayangan YouTube Radar Tulungagung TV.

Dari segi fisik, Candi Penampihan berbentuk berundak atau berteras, yang terdiri dari tiga teras. Seperti Candi Punden berundak pada umumnya, candi ini digunakan sebagai tempat pemujaan atau sembahyang, dan sampai hari ini pun Candi penampihan masih digunakan untuk peribadatan.

Tiap Tahunnya, Candi Penampihan memiliki agenda yang tidak pernah dilewatkan, yaitu ritual 1 suro yang dilakukan oleh warga setempat sebagai bentuk puji syukur kepada Sang Pencipta Alam Semesta, dan upaya nguri-nguri peninggalan nenek moyang.

Kisah penolakan cinta seorang pembesar Ponorogo dengan Dewi Kilisuci akan terus abadi bersama dengan keberadaan Candi Penampihan. Kisah miris tentang cinta bertepuk sebelah tangan itu tetap abadi.

Kini, candi penampihan ini telah resmi ditetapkan sebagai cagar budaya, dengan SK Bupati Tulungagung Tahun 2019 dengan nomor SK 188.45/96/013/2019.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#candi asmoro bangun #ponorogo wengker #kabupaten tulungagung #candi penampihan #dewi kilisuci