TULUNGAGUNG - Kabupaten Tulungagung terkenal dengan sejarahnya yang kental, maka tidak heran, jika banyak tempat wisata bersejarah di Kabupaten Tulungagung.
Salah satu tempat bersejarah di Tulungagung adalah Candi Penampihan yang ada di Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Lantas, apakah hanya Candi Penampihan saja?
Tentunya tidak, mengingat kondisi geografis Tulungagung yang dekat dengan pantai selatan dan kabupaten Kediri, menyebabkan Tulungagung memiliki sangat banyak sekali tempat bersejarah. Berikut adalah beberapa tempat wisata bersejarah di Kabupaten Tulungagung.
Menurut situs resmi BAPPEDA Tulungagung. Tulungagung merupakan lokasi yang strategis untuk sebuah sejarah perkembangan kerajaan Kadiri hingga Kerajaan Majapahit. Sehingga keadaan tempat tersebut menyebabkan Kabupaten Tulungagung juga memiliki tempat wisata yang bersejarah berupa Candi.
- Candi Penampihan
Candi Penampihan atau bisa disebut Penampiyan atau candi Peampian ini terletak di Desa Geger Kecmatan Sendang Kabupaten Tulungagung. Candi ini memiliki bangunan candi yang unik memiliki tiga teras yang berundak.
Candi penampihan ini ada sejak tahun 820 Saka atau 898 Masehi. Candi ini dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno difungsikan sebagai tempat pemujaan. Bangunan candi yang dibangun secara berundak juga memiliki tujuan tahapan pemujaan.
Selain memilih nuansa sejarah candi Penampian ini sendiri juga memiliki nuansa yang sejuk dan pemandangan yang indah.
Pasalnya, candi yang terletak di Desa Geger ini teletak di kaki gunung Wilis dengan pemandangan gunung Wilis itu sendiri dan terletak di tengah perkebunan teh. Sehingga seringkali candi ini berkabut.
- Candi Dadi
Candi yang terletak di tengah kehutanan lingkungan RPH Kalidawir ini terletak di desa Wajak Kidul Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Candi ini memiliki ketinggian 900 mdpl.
Untuk tahun pembuatannya sendiri belum diketahui. Di luar itu semua, candi ini sudah ada sebelum bangsa Belanda dan Jepang menjajah Indonesia.
Bahkan, bangsa Jepang pada saat itu memakai tempat tersebut sebagai tempat beribadah dan hingga saat ini pun masih banyak biksu serta pengunjung lain yang mengunjungi candi ini.
Baca Juga: Duel Perguruan Silat, Polres Tulungagung Selidiki Pemicu Kerusuhan
- Candi Gayatri
Candi Gayatri adalah candi yang memiliki sebuah arca wanita. Kemungkinan arca tersebut adalah sebuah patung dari Ratu Sri Rajapatni, nenek dari Raja Hayam Wuruk.
Pada candi tersebut terdapat batu yang di bagian tangganya bertuliskan tahun 1289 C dan 1291 C.
Tulisan tersebut menandakan tanggal dan tahun pembuatan candi Gayatri pada masa kerajaan Majapahit.
Candi yang sudah berupa reruntuhan ini diduga merupakan sebuah pemakaman dari Ratu Sri Rajapatni.
- Candi Sanggrahan
Candi Sagdrahan merupakan candi yang terletak di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulugagung.
Candi sanggrahan kono menurut Kitab Negarakertagama, adalah sebuah tempat beristirahatnya para rombongan yang membawa jenazah gayatri atauu ratu Sri Rajapatni.
Sebutan candi Sanggrahan disebut dengan candi Cungkup. Candi ini memiliki ketinggian 2 meter.
- Candi Mirigambar
Candi yang satu ini merupakan candi yang cukup sulit untuk diakses lokasinya. Candi ini terletak di desa Mirigmbar, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung dengan keadaan bangunan candi yang agak runtuh.
Letak candi ini berdekatan dengan lapangan sepak bola dengan suasana yang sepi.
- Candi Ngampel/Ampel
Candi ini terletak di Desa Joho, Kecamatan Kalidawir. Suasana candi ini lumayan seram, sebab dikelilingi oleh hutan yang sepi.
Menurut masyarakat sekitar, candi Ngampel ini adalah candi yang terletak di bagian paling selatan. Sehingga memiliki sejarah atau arti yang tersendiri.
Pada candi tersebut terdapat pohon yang menumbuh di atas bangunan. Namun, pada saat ini bangunan utama pada candi tersebut runtuh.
Ada dua patung kecil dan altar di depan bangunan itu. Patung-patung ditutupi bangunan kayu dan bambu, serta di depan patungnya terdapat lemping.
Itu tadi beberapa tempat – tempat bersejarah di Kabupaten Tulungagung. Ayo kita tetap lestarikan dan merawat tempat – tempat bersejarah tersebut.
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra