TULUNGAGUNG - Kalangan legislator cukup prihatin dengan kondisi Pasar Wage. Ia pun meminta agar pasar legendaris di Kabupaten Tulungagung itu segera diselamatkan. Baik revitalisasi pasar ataupun pedagang yang ada didalamnya.
Ketua Komisi C DPRD Tulungagung, Asrori memaparkan menurut pandangannya, Pasar Wage sudah dalam kondisi membutuhkan pertolongan.
Banyak kios yang berada di depan pasar sudah kosong, puluhan atau bahkan ratusan kios dan los yang berada di dalam pasar juga sudah tanpa penghuni ditinggal pemiliknya.
“Kalau hitungan saya ya, mungkin saat ini pedagang yang ada kurang dari 50 persennya,” katanya.
Asrori menegaskan pedagang yang saat ini memilih untuk tetap bertahan harus sangat diperhatikan oleh pemerintah. Jangan sampai, pasar yang cukup legendaris itu terus terpuruk sehingga perlu adanya sentuhan yang tepat.
“Sekarang, kita (pemerintah daerah) harus harus berfikir, bagaimana menghidupkan kembali Pasaw Wage, jangan sampai semakin lama pasar ini semakin mati,” ujar politikus Partai Golkar itu.
Asrori mendrong agar eksekutif segera melakukan uji kelayakan untuk mencari solusi untuk Pasar Wage.
Inovasi sangatlah diperlukan. Salah satunya adalah mengubah Pasar Wage menjadi pasar tematik yang sudah dilakukan lebih dahulu oleh daerah lainnya.
“Di Surabaya itu kan ada pasar tematik khusus untuk hiburan warga. Cobalah nanti arahnya Pasar Wage kesana, biar para pedagang makanan, pedagang kain, pedagang sayur dan pedagang lainnya bisa berdaya kembali,” katanya.
“Saya ingat dulu kalau menjelang lebaran, itu belum afdol kalau belum ke Pasar Wage. Jadi semoga pasar itu bisa dikembangkan lagi,” sambung Asrori.
Sebelumnya, komisi C juga telah merekomendasikan agar Pasar Wage dijadikan tempat untuk Mal Pelayanan Publik (MPP) Tulungagung ataupun kawasan perkantoran.
Namun, rekomendasi itu mentah dan MPP dibangun di gedung Balai Rakyat dan kewasan perkantoran dibangun di Eks Belga.
“Sebenarnya harapan teman-teman komisi C dulu itu kalau disana dibangun MPP atau perkantoran itu agar perputaran ekonomi disana lebih hidup lagi,” pungkasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra