TULUNGAGUNG - Desa Kalibatur merupakan salah satu desa di Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung.
Desa Kalibatur ini masuk daftar teratas sebagai desa yang mendapatkan dana desa atau DD tertinggi di daerah yang dikenal dengan Kota Marmer ini.
Nilai dana desa yang diperoleh pada tahun anggara 2024 ini mencapai Rp1,7 miliar lebih.
Sebagai desa yang memperoleh dana desa tertinggi, ternyata Desa Kalibatur menyimpan beberapa fakta unik. Berikut beberapa fakta unik dari desa ini.
Secara geografis, Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, berada di daerah dataran tinggi.
Desa ini memiliki luas wilayah mencapai 15.443.500 meter persegi. Sementara jumlah penduduk di desa ini menyentuh 7.441 jiwa yang terdiri dari 3.556 laki-laki dan 3.885 perempuan.
Suhu di daerah ini kurang lebih 26 derajat celcius, sedangkan curah hujannya rata-rata 2000 mm.
Dalam kilas sejarahnya, konon Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, ada seorang pengembara dari keturunan kerajaan.
Pengembara itu beristirahat di bawah pohon Kedawung karena letih berjalan kaki. Tempat peristirahatan ini kini menjadi nama Dusun Dawung.
Perjalanan berlanjut, pengembara itu berjalan menyusuri hutan. Tak ada satupun rumah yang berdiri kala itu. Hanya gubuk-gubuk, tempat istirahat para penggembala hewan ternak dan bertani.
Karena hanya berupa hutan, tempat pengembara yang sangat luas itu menjadi cikal bakal Dusun Banaran.
Pengembaraan itu belum berakhir. Ia terus berjalan ke arah timur. Namun situasi dalam perjalan ini, ia justru tidak menemukan satu orang pun.
Ia pun sempat kedlarung-dlarung melewati bukit dan jurang. Dengan keberadaannya yang kedlarung-dlarung itulah yang menjadikan berdirinya sebuah Dusun Darungan.
Walaupun keadaannya sangat lelah. Kelelahan itu tidak menyurutkan tekad mengembaranya. Ia terus berjalan ke arah timur.
Pengembara itu melewati banyak kali atau sungai. Di sungai atau kali inilah ia bertemu seseorang.
Ia menganggap orang inilah sebagai teman. Dalam Bahasa Jawa, tempat memiliki batur. Maka tempat pertemuan inilah yang sampai sekarang disebut Kalibatur.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra