TULUNGAGUNG – Sebenarnya, antara pihak eksekutif yang diwakili oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tulungagung serta pihak legislatif yang diwakili oleh Komisi C DPRD Tulungagung telah sepakat untuk mencari solusi Pasar Wage layak diselamatkan.
Namun realisasinya mungkin akan sulit dilakukan tahun ini dengan alasan keterbatasan anggaran. Banyak alasan kenapa Pasar Wage harus dipertahankan oleh Pemkab Tulungagung.
Diantaranya adalah pertimbangan bahwa pasar tersebut pernah menjadi ikon yang telah diketahui oleh masyarakat Tulungagung dan sekitarnya.
Lokasinya yang strategis di tengah kota, juga sayang rasanya jika Pasar Wage harus lenyap tertelan oleh zaman.
Kepala Disperindag Tulungagung, Tri Hariadi menyebut pengembangan Pasar Wage sudah menjadi pembahasan sejak lama.
Terutama antara Disperindag Tulungagung sebagai organisasi perangkat daerah (OPD) yang mengurus pasar dengan Komisi C DPRD Tulungagung sebagai mitra kerjanya.
Dari pembicaraan yang dilakukan itu, ada dua opsi besar yang mungkin bisa diaplikasikan ke Pasar Wage agar kedepan bisa lebih berkembang.
Pertama adalah dibuah menjadi pasar tematik atau dirubah menjadi pasar semi mall.
“Sebenarnya kalau dibuat pasar tematik bisa, kalau dibuat pasar semi mal juga bisa seperti di Kabupaten Magetan itu. Intinya itu dikonsep supaya Pasar Wage bisa mengikuti perkembangan zaman dan tetap bisa hidup,” jelas Tri.
Dia melanjutkan konsep-konsep yang sudah muncul itu tentunya masih memerlukan kajian yang mendalam.
Tanpa kajian, rencana pengembangan Pasar Wage ditakutkan akan membuang-buang anggaran saja.
“Kita sudah bicara dengan komisi C untuk membahas konsep-konsep itu. Tapi memang kajian belum kita lakukan karena masih menyusun konsep itu,” paparnya.
Lalu kapan eksekusi akan dilakukan? Tri menjawab yang jelas itu akan sulit dilakukan pada tahun 2024 ini.
Alasan utamanya adalah karena tidak adanya anggaran yang tersedia. Pun khusus pengembangan Pasar Wage urung dianggarkan pada kegiatan pada anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Tulungagung tahun 2024 ini.
Pemkab Tulungagung bisa mengajukan bantuan keuangan ke pemerintah pusat ataupun provinsi, namun biasanya usulan semacam itu tidak mudah untuk terealisasi.
“Saya fikir sulit untuk melakukan pengembangan Pasar Wage pada tahun ini. Apalagi kan anggaran banyak terserap untuk hajat nasional (pemilu 2024) itu,"
"Kalau kita ngusulkan di kementerian juga bisa, cuma biasanya tidak sekali mengusulkan langsung bisa dapat anggaran,” tutupnya.
Sebelumnya, Ketua Komisi C DPRD Tulungagung, Asrori memaparkan menurut pandangannya, Pasar Wage sudah dalam kondisi membutuhkan pertolongan.
Banyak kios yang berada didepan pasar sudah kosong, puluhan atau bahkan ratusan kios dan los yang berada di dalam pasar juga sudah tanpa penghuni ditinggal pemiliknya.
Dia menegaskan pedagang yang saat ini memilih untuk tetap bertahan harus sangat diperhatikan oleh pemerintah.
Jangan sampai, pasar yang cukup legendaris itu terus terpuruk sehingga perlu adanya sentuhan yang tepat.
“Sekarang, kita (pemerintah daerah) harus harus berfikir, bagaimana menghidupkan kembali Pasaw Wage, jangan sampai semakin lama pasar ini semakin mati,” ujar politikus Partai Golkar itu.
Komsi C sendiri mendorong agar eksekutif segera melakukan uji kelayakan untuk mencari solusi untuk Pasar Wage. Inovasi sangatlah diperlukan.
Salah satunya adalah mengubah Pasar Wage menjadi pasar tematik yang sudah dilakukan lebih dahulu oleh daerah lainnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra