TULUNGAGUNG - Terletak di antara pegunungan dan lereng yang mempesona di Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung bukan sekadar titik di peta, melainkan kisah yang menggugah jiwa.
Dari keindahan alamnya yang menakjubkan hingga warisan budayanya yang kaya, Tulungagung adalah perpaduan harmonis antara tradisi dan modernitas.
Melalui mata lensa, menjelajahi keunikan dan keajaiban yang menjadikan kota ini sebagai perhentian yang tidak boleh dilewatkan bagi para pelancong dan pencinta budaya. Dan, taukah Kamu tentang asal-usul daerah yang dikenal dengan Kota Marmer ini?
Menelusuri lorong waktu ke masa silam, nama Tulungagung, yang awalnya hanya sebuah desa kecil di sekitar sumber mata air, telah menjelma menjadi tempat bersejarah yang kaya akan keindahan alam dan warisan budaya.
Nama 'Tulungagung' sendiri berasal dari bahasa Kawi, merujuk pada sumber air besar yang menjadi ciri khas daerah ini, dan kata Agung berarti besar.
Nama Ngrowo masih dipakai sampai sekitar awal abad XX, ketika terjadi perpindahan pusat ibu kota dari Kalangbret ke Tulungagung.
Namun, kekayaan sejarahnya terungkap melalui peristiwa penting pada tahun 1205 M, ketika masyarakat setia Thani Lawadan di selatan Tulungagung mendapat penghargaan dari Raja Daha atas keberanian mereka melawan serangan musuh.
Peristiwa ini tertuang dalam Prasasti Lawadan, yang menetapkan tanggal 18 November 1205 M sebagai hari jadi Kabupaten Tulungagung.
Di tengah hamparan sawah dan keindahan alam, tersembunyi sebuah situs bersejarah yang tak terlupakan, Candi Gayatri di Desa Boyolangu. Candi ini menjadi tempat suci bagi Gayatri, istri keempat Raja Majapahit pertama, Raden Wijaya, dan nenek dari Hayam Wuruk, raja yang memerintah di masa keemasan Kerajaan Majapahit.
Nama 'Boyolangu' yang terdapat dalam Kitab Nagarakertagama menggambarkan tempat untuk mengucurkan kebahagiaan dan keberanian. Melalui penelusuran ini, Tulungagung bukan sekadar nama di peta, melainkan kisah hidup yang mempesona dari masa ke masa. Berikut ini adalah kutipan Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia:
Prajnyaparamitapuri itulah nama candi makam yang dibangun
Arca Sri Padukapatni diberkati oleh Sang Pendeta Jnyanawidi
Telah lanjut usia, paham akan tantra, menghimpun ilmu agama
Laksana titisan Empu Barada, menggembirakan hati Baginda
(Pupuh LXIX, Bait 1)
Di Bayalangu akan dibangun pula candi makam Sri Rajapatni
Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkati tanahnya
Rencananya telah disetujui oleh sang menteri demung Boja
Wisesapura namanya, jika candi sudah sempurna dibangun
(Pupuh LXIX, Bait 2)
Makam rani: Kamal Padak, Segala, Simping
Sri Ranggapura serta candi Budi Kuncir
Bangunan baru Prajnyaparamitapuri
Di Bayalangu yang baru saja dibangun
(Pupuh LXXIV, Bait 1).***