TULUNGAGUNG - Sebagai tempat legenda asmara bersejarah dan tempat wisata, Gunung Budeg ternyata tidak dikelola oleh pemerintah setempat.
Gunung yang terletak di tengah kota Kabupaten Tulungagung ini ternyata tidak dikelola oleh pemerintah dan hanya dikelola secara pribadi oleh salah satu warga yang berdomisili di area tersebut.
Baca Juga: Peringatan Isra Mikraj 1445 Hijriyah, PJ Bupati Tulungagung: Ada Hikmah yang Dipetik
Gunung Budeg adalah sebuah perbukitan yang terletak di Desa Tanggung Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung.
Sebagai tempat wingit dan tempat yang memiliki sejara legenda asmara antara Joko Budheg bernama asli Joko Tawang dengan Roro Kembang Sore.
Bahkan pada masa penjajahan gunung budheg juga memiliki cerita sejarahnya sendiri.
Baca Juga: Hasil Audit: 78 Persen Sampah Plastik di Tulungagung Berasal dari Kemasan Makanan
Pengelola dari Gunung Budeg menjelaskan bahwa kisah asmara dari Joko Tawang dengan Roro Kembangsore yang sampai akhirnya Joko Tawang yang dikutuk oleh ibunya sampai menjadi batu, sebuah legenda yang bermula pada saat era masa Kerajaan Majapahit.
Mulai dari situ legenda itulah yang sampai saat dipercayai oleh masyarakat Tulungagung sebagai cerita rakyat.
Diluar cerita dan sejarah-sejarah yang tersimpan digunung budheg, ternyata pemerintah tidak ikut andil dalam pelestariannya.
Baca Juga: Lagi Berkebun, Petani Tulungagung Temukan Jasad, Kematian Korban Diduga Sudah Empat Hari
Gunung yang terletak di Desa Tanggung ini ternyata dulunya juga perbukitan batu tanah kosong yang gersang dan hanya ada beberapa bagunan diatasnya.
Kondisi dari gunung budhegpun saat awal dikelolah oleh Agus Utomo pada tahun 2003 adalah tanah perbukitan yang curam dan sangat gersang.
“Kondisinya hancur tidak ada tanaman. Kalau hujan deras watune gelundung kabeh," Penjelasan dari pengelola Gunung Budeg, Agus Utomo.
Awal Pak Agus Utomo mengelola Gunung Budheg di 2003. Sebelum itu beliau belum mengetahui siapa pemilih dan pengelola sebelumnya.
Baca Juga: FIF Group Tulungagung Laporkan Nasabah Nakal ke Polres Tulungagung
Beliau juga bingung harus mulai merenofasi tempat yang gersang luas tersebut dari mana.
Pada akhirnya beliau mulai menanami pepohonan di gunung budheg pada tahun 2003, beliau mulai menanam pepohonan di lereng utara.
“Jadi tahun 2003 itu saya sama sekali tidak tahu gunung itu yang punya siapa. Aturannya itu seperti apa. Ya pokoknya saya asal menanam. 2003 itu saya nanam di lereng utara, 2004 masih di lereng utara,"Ungkap pak Agus dalam video wawancara dengan Radar Tulungagung.
“Pada tahun 2004 sampai 2005 masih di curigai oleh para buruh tani. Maunya apa, kok ditanduri nanti jangan-jangan mau dikuasai sendiri gunungnya. Akhirnya pada tahun 2006 saya menanm di pojok an namanya barat daya," lanjut ungkapan dari Agus Utomo.
Proses perenovasian Gunung Budeg oleh pak agus berlangsung cukup lama mulai 2003 sampai 2011 dan tanaman tetap bertahan sampai saat ini.
Penjelasan lebih lanjut dari pak Agus, mengatakan bahwa bibit dan semua alat yang digunakan.
Semua dari Agus pribadi dan beberapa orang dia ajak untuk merenovasi Gunung Budeg.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra