TULUNGAGUNG - Kisah rakyat Tulungagung yang terkenal dari masa zaman Kerajaan Majapahit hingga saat ini.
Kisah seorang pemuda bernama Joko Tawang atau akrab dengan sapaan Joko Budeg yang jatuh cinta dengan Nyi Roro Kembang Sore.
Siapakah sosok Nyi Roro Kembang Sore dan siapa Beliau hingga bisa membuat Joko Tawang dikutuk oleh ibunya?
Nyi Roro Kembang Sore merupakan sesepuh tanah Tulungagung atau sosok penting dalam sejarah Kabupaten Tulungagung.
Nyi Roro Kembang Sore, wanita berparas cantik yang biasanya menggunakan baju batik, selendang hijau, dan menggunakan hiasan kepala berupa mahkota.
Nyi Roro Kembang Sore saat masa mudanya adalah seorang pemudi yang sangat suka mencari ilmu.
Pada masa mudanya ia mencari ilmu kepada seorang Kyai yang bernama, Kyai Pacet Bonorowo, kyai yang memiliki banyak murid.
Beberapa muridnya lain meliputi, Lembu Peteng, Minak Sopal gajah Mada dan sebagainya.
Saat Kembang Sore mencari ilmu dengan Kyai Pacet Bonorowo, beliau jatuh cinta dengan Lembu Peteng, seorang putra dari Kerajaan Majapahit.
Karena ayah dari Nyi Roro Kembang Sore tidak setuju, merasa anaknya hanya dipermainkan, Lembu Peteng akhirnya dibunuh oleh ayah Roro kembang Sore.
Setelah kematian dari pasangannya tersebut Kembang Sore kabur dari rumah dan akhirnya Beliau pergi ke Bukit Bolo dan memperdalam ilmunya.
Penjelasan Kisah Kembang Sore yang dijelaskan oleh Basuki, Juru kunci dari makam Roro Kembang Sore menjelaskan bahwa Nyi Roro Kembang Sore adalah orang yang sering tirakat, suka menolong, dan selalu bertapa mendekatkan diri kepada Tuhan.
Hal itu pula yang membuat Nyi Roro Kembang Sore menjadi orang yang disegani banyak orang.
Pada akhirnya itulah semua perkataan yang terucap dari Nyi Roro kembang Sore selalu menjadi kenyataan dan menjadikannya seorang guru yang tinggal di puncak bukit Bolo dengan sebutan Mpu Winadi.
Mpu Winadi atau Kembang Sore mendirikan padepokannya di puncak Bukit Bolo bersama temannya beguru yaitu, Gajah Mada dan pada akhirnya Gajah mada yang menjadi cantriknya atau menjadi penjaga padepokan tersebut.
Sikap Kembang Sore yang suka menolong itulah yang membuat kabupaten yang ada di sebelah selatan Jawa Timur yang berdekatan langsung dengan laut selatan ini di sebut Kabupaten Tulungagung.
Sedangkan saat ini pun padepokan dari Roro Kembang Sore tetap ramai didatangi oleh masyarakat. Padepokan yang dulunya adalah tempat tinggal Nyai Kembang Sore sekarang pun menjadi tempat makam dari Kembang Sore itu Sendiri.
Tidak hanya dari Kaupaten Tulungagung, orang-orang yang berziarah atau mendatangi makam Nyai Kembang Sore tersebar dari seluruh manca negara.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra