TULUNGAGUNG - Negara Indonesia terkenal dengan keberagaman budayanya, seni termasuk bagian dari budaya.
Sebagai masyarakat Indonesia sudah seharusnya untuk melestarikan budaya yang ada di daerahnya, salah satu seni yang ada di Tulungagung adalah seni tradisional kentrung, seni yang awalnya digunakan oleh para Wali untuk menyebarkan islam ditanah Jawa.
Seni tradisional kentrung adalah seni sastra lisan atau tutur berbahasa Jawa yang diiringi tabuhan terbangan dan kendang yang berasal dari Tuban.
Biasanya seni kentrung disajikan selama semalam suntuk untuk kalangan orang tua dalam acara ruwatan dan nadar.
Salah satu pelestari seni kentrung adalah sanggar seni Gedhang Godhog yang berdiri pada tahun 2011 berada di kecamatan Campurdarat kabupaten Tulungagung, tak hanya seni kentrung sangar Gedhang Godhog juga bergerak dibidang teater.
Awal mula berdiri sanggar seni Gedhang Godhog merupakan ekstrakurikuler di SMP2 Campurdarat dan akhirnya pada tahun 2016 menjadi sanggar seni mandiri di masyarakat.
Yang bertujuan untuk mengenalkan seni tradisional kentrung kemasyarakat.
Sanggar seni Gedhang Godhog diasuh oleh Yayak Priasmara, ia mengenal kentrung dari seorang maestro kentrung perempuan yang ada di Tulungagung yang bernama mbok Gimah yang telah meninggal pada tahun 2018.
"Beliau adalah guru kami, sahabat kami, sekaligus panutan kami, sampai hari ini kamu nguri nguri (melestarikan) sebisa kami semampu kami intinya kentrung masih ada, tetap ada harus ada sampai kapanpun," ucap yayak dilaman youtube radar tulungagung dikutip pada (3/3/2024).
Salah satu upaya yang dilakukan oleh sanggar seni Gedhang Godhog adalah dengan mengadakan beasiswa kentrung.
Sistem beasiswa ini ialah mendidik anak yang sebelumnya belum mengenal kesenian kentrung lalu melatihnya satu bulan disanggar dan dipentaskan bersama anak anak sanggar seni gedhang godhog.
Yayak mengaku sanggarnya tidak memungut uang dari para anggotanya yang dengan kata lain sanggar gedhang godhog gratis siapapun yang ingin belajar mengenai sini tradisional kentrung akan dibimbing, ia menjalankan sanggar seni Gedhang Godhog tidak berniat untuk mencari uang namun ia berniat untuk melestarikan seni kentrung dengan ikhlas.
Walaupun begitu ia mengaku rezekinya mengalir begitu saja, ia juga mengatakan bahwa aapa yang ia jalani sekarang merupakan sebuah pesan atau amanat dari mbok Gimah " yen kowe ngopeni kentrung seng duwe kentrung bakal ngopeni kowe (gusti Allah).
Saat ini kesenian tradisional kentrung sudah menjadi warisan budaya tak benda namun Yayak mengaku bahwa "Tulungagung memang belum terlalu care ataupun aware ataupun apaya ngopeni yang kaitannya dengan menampilakan kentrung di semua event- event kabupaten tapi ternyata di Nasional dilingkup Kemendikbud dan lain- lain kentrung itu malah menjadi salah satu yang diperhitungkan," ungkapnya.
Hal tersebut seharusnya dapat menjadi perhatian khusus dari pemerintah daerah terkait seni tradisional yang ada di Tulungagung agar tetap lestari.
Seni tradisional kentrung merupakan kekayaan Indonehal tersebut seharusnya dapat menjadi perhatian khusus dari pemerintah daerah terkait seni tradisional yang ada di Tulungagung agar tetap lestari.
Seni kentrung adalah seni yang tak nilai harganya, sudah seharunya generasi bangsa tertarik akan budaya agar budaya tersebut tidak punah dan yang lebih parah budaya kita dikuasai oleh masyarakat luar Indonesia.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra