TULUNGAGUNG - Chindo atau China-Indonesia merupakan sebutan bagi keturunan China dan Indonesia.
Kedua ras ini dapat dilihat secara fisik yang memiliki perbedaan signifikan. Namun banyak pula keturunan China yang menikah dengan keturunan Indonesia sehingga melahirkan anak yang kerap disebut Chindo.
Diantara banyak keturunan China dan Indonesia, ada pula keturunan Chindo yang tidak mirip China tapi juga tidak terlalu Indonesia.
Dilansir radartulungagung.jawapos.com dari Instagram @/cettamandarin pada 5 Maret 2024, keturunan China-Indonesia yang memiliki ciri fisik tidak mirip China pada umumnya dan tidak terlalu Indonesia disebut sebagai Chindo Ampyang.
Orang dengan sebutan Chindo Ampyang sekilas mirip orang Indonesia tapi memiliki beberapa kemiripan fisik dengan orang China.
Ampyang sendiri diambil dari jajanan tradisional khas Jawa yang banyak ditemui di Tulungagung terbuat dari kacang tanah dan gula jawa.
Nama Ampyang juga memiliki filosofinya sendiri, yaitu orang China yang diibaratkan kacang tanah dan gula jawa yang diibaratkan orang Indonesia (Jawa).
Kedua bahan ini bersatu dan memberikan rasa gurih manis yang melambangkan keragaman dan keindahan.
Dalam sejarahnya, pendatang dari China di daerah Jawa yang hidup berdampingan dengan warga lokal.
Salah satu daerah yang dimana pendatang China dan warga lokal hidup berdampingan adalah Surakarta.
Di daerah ini pendatang China dan warga lokal hidup rukun walaupun etnis dan budayanya berbeda. Sebab itulah banyak keturunan China yang menikah dengan orang Jawa dan menjadi hal yang lumrah.
Karena terbiasa dengan keluarga yang multietnis, multikultural, dan multi agama menimbulkan rasa toleransi tinggi dan menjadi bukti asimilasi budaya Tionghoa dengan budaya Jawa.
Ciri fisik yang dapat dilihat dari Chindo Ampyang ini khas dengan campuran Jawa-Tionghoa seperti kulit agak gelap dibandingkan Chindo pada umumnya, memiliki mata yang sipit atau memiliki kulit lebih putih dibandingkan Jawa pada umumnya dan mata yang lebih lebar, serta kerap disebut ‘terlalu Jawa buat Chindo, tapi terlalu Chindo buat Jawa’.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra