TULUNGAGUNG - Pabrik Rejto Pentung adalah pabrik rokok terbesar se-Jawa Timur pada tahun 1980-an, bagi masyarakat Tulungagung sendiri nama pabrik Rejto Pentung sangatlah familier.
Pabrik Retjo Pentung terkenal dengan keberhasilan usahanya serta desas-desus mengenai mitos dan misteri yang tersimpan didalamnya.
Pabrik Retjo Pentung didirikan oleh Hj. Soemiran Karsodiwirjo, didirikan pada tahun 1946.
Pabrik Rejto Pentung terletak di Desa Jepun Kecamatan Tulungagung Kabupaten Tulungagung, puncak masa kejayaan rokok Retjo Pentung pada tahun sekitar 1980-an sampai awal 1990 an.
Sebelumnya Rokok Retjo Pentung bernama rokok Cap Urang (Udang), awalnya rokok Retjo Pentung merupakan rokok yang dibuat secara manual atau yang sering disebut Tingwe (Nglinting Dewe).
Namun dengan berjalannya waktu usaha rokok Retjo Pentung menjadi besar dan memiliki perusahaan tersendiri.
“Bapak niku kan tertarik seni, terus ngukir saget nggambar saget lajeg ngoten bekas sandal jepang niko diukir nopo niku gambar Urang terus silit ipun dandang dikerok dipringi minyak klentek ditok aken teng kertas kertase ditoto damel bungkus rokok” ungkap Mulyadi anak keempat dari pemilik Rejto Pentug Dilaman Youtube Rumah Sehat 21 dikutip pada (11/03/2024)
Dibalik keberhasilan usaha tentu terdapat cerita perjuangan membangun usaha tersebut. Alm. Hj. Soemiran dulunya merupakan orang yang tidak punya, yang bersekolah hanya sampai kelas Dua SD (Sekolah Ongko Loro).
Alm. Hj. Soemiran memulai usahanya dengan membuat rokok sendiri dan membuat kemasan serta cap sendiri, dengan berjalannya waktu Alm. Hj. Soemiran mendapatkan resep bahan yang bisa menambah cita rasa dari rokok tersebut yaitu Mentol.
Dibalik keberhasilan pabrik Retjo Pentung terdapat misteri yang hingga kini masih dipercaya oleh masyarakat Tulungagung bahwa pemilik Retjo Pentung memiliki perjanjian pesugihan dengan Nyi Roro Kidul.
Hal tersebut sontak disanggah oleh Denny Darko cucu dari pemilik pabrik rokok Retjo Pentung di laman Youtubenya.
“Seumur saya masih hidup sampai beliau meninggal berartikan sekitar mungkin 30-an tahun, saya nggak pernah melihat beliau melakukan pesugihan, kalau melakukan pesugihan kan seharusnya bisa lebih kaya dan nggak mungkin bangkrut,” ungkapnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra