Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Rawan Kotor, DLH Masih Terima Satu Laporan Pengelolaan Sampah Mandiri di Kawasan JLS Tulungagung

Aditya Yuda Setya Putra • Sabtu, 23 Maret 2024 | 19:30 WIB
Potensi sampah di Kawasan JLS Tulungagung tinggi, lantaran masih satu laporan tentang pengelolaan sampah mandiri.
Potensi sampah di Kawasan JLS Tulungagung tinggi, lantaran masih satu laporan tentang pengelolaan sampah mandiri.

TULUNGAGUNG – Pengelolaan sampah di jalur lintas selatan (JLS) masih tanda tanya. Hingga saat ini, Pemkab Tulungagung mengaku belum menerima permohonan pengangkutan sampah dari pengelola wisata di sekitar JLS. 

Dikhawatirkan kondisi ini bisa menyebabkan penimbunan sampah yang berakibat pada kerusakan lingkungan.

Kabid Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulungagung, Yudha Yanuar Hadi mengatakan, pihaknya melakukan koordinasi dengan dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).

Hasilnya, diketahui bahwa sampai saat ini baru ada satu pengelola wisata di selatan Tulungagung yang melakukan pengelolaan sampah secara mandiri.

“Saya sudah konfirmasi ke Disbudpar. Informasinya yang kami dapat, pengelola wisata Pantai Gemah melakukan pengelolaan sampah dengan cara membuang sampah langsung ke TPA. Yakni, sepekan sekali,” akuinya.

Disinggung soal pelaku wisata lain di lingkar JLS, Yudha mengungkapkan bahwa DLH belum menerima laporan atau permintaan pengangkutan sampah.

Hal ini perlu dipastikan, mengingat adanya peningkatan kegiatan masyarakat di sekitar ruas jalan milik pemerintah pusat itu. 

“Apakah mereka nunut ke Gemah atau mengelola sendiri kami belum tahu. Yang jelas selama ini belum ada permohonan pengangkutan sampah ke DLH,” sambungnya.

Informasi yang dihimpun, beberapa pemerintah desa (pemdes) di wilayah Kecamatan Besuki dan Bandung memilih untuk melakukan pengelolaan sampah secara mandiri.

Itu tak lepas dari banyaknya lahan kosong yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tempat pembuangan sementara (TPS).

Tapi, dibutuhkan perhatian khusus guna memastikan tak terjadi penumpukan sampah di TPS.

Salah satunya dengan melakukan pengangkutan sampah secara berkala ke TPA atau dengan cara dipilah untuk selanjutnya didaur ulang. 

“Sejauh ini baru pelaku wisata di Gemah yang melakukan koordinasi. Mungkin karena mereka konsentrasi pada kegiatan wisatanya. Sedangkan di pemdes lain kan tidak memiliki destinasi wisata seperti halnya Gemah,” kata Yudha.

Meski begitu, Yudha mengaku bahwa dinas kesulitan dan proses pengangkutan sampah di beberapa wilayah kecamatan terluar Tulungagung. 

Alasannya, terbatasnya armada yang dimiliki oleh DLH jadi penyebab utama. Itu jadi salah satu alasan DLH berencana mengajukan pengadaan armada pengangkut sampah di penghujung tahun ini.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#jls tulungagung #DLH #sampah