TULUNGAGUNG - Siapa yang tak kenal Denny Darko, pesulap dan artis ini ternyata berasal dari daerah kecil yang sampai saat ini masih menjadi Kabupaten yakni Tulungagung.
Di Tulungagung sendiri Denny Darko merupakan cucu dari pemilik pabrik rokok terbesar Se-Jawa Timur hingga tahun 2000 mengalami kebangkrutan.
Ayah Denny Darko adalah Mulyadi anak keempat dari pemilik Rokok Retjo Pentung yakni Soemiran Karsodiwirjo. Pabrik rokok ini didirikan pada tahun 1946 dan berjaya pada akhir tahun 1980- an sampai awal 1990-an.
Cerita Denny Darko di channel Youtubenya (Denny Darko) saat melakukan kolaborasi dengan Bucin TV. Ia juga membahas mengenai cerita pesugihan yang selama ini tersebar di masyarakat Tulungagung mengenai rokok Retjo Pentung milik kakeknya.
Denny menjelaskan dengan rinci mengenai alasan- alasan mengapa kakeknya membuat Padepokan Retjo Sewu. Dari SD Denny Darko diajak oleh ayahnya berkunjung ke pabrik Rokok Retjo Pentung untuk sekedar bermain disana,
“Karena kakek saya menganut cara mendidik seperti orang- orang Tionghoa, dimana anak dari kecil harus ada di toko atau ada di pabrik, saya waktu itu mengalami hal itu,” ucapnya pada laman Youtube Denny Darko di kutip pada (17/03/2024).
Dari SD hingga SMP Denny Darko bersekolah di Tulungagung namun ketika SMA ia bersekolah di Surabaya.
Pada awalnya Saat mengambil kuliah di Universitas ia mengambil dua jurusan yang berbeda di Universitas yang berbeda yakni Arsitektur Unpar dan Seni Rupa dan Desain di ITB.
Namun pada akhirnya ia harus melepas salah satu Universitasnya karena Ipk yang ia miliki dapat membuatnya di DO, hingga ia memutuskan mengikhlaskan Arsitektur Unpar.
Selain menjadi pesulap Denny Darko dulunya adalah seorang dosen di ITB.
Saat diwawancara oleh salah satu Channel Youtube Rumah Hikmah 19 ayah dari Denny Darko mengatakan bahwa ia mendidik anaknya dengan keras dan disiplin walaupun ia adalah orang punya namun ia tidak membiarkan anak- anaknya menjadi manja karenanya.
Baca Juga: Misteri Pesugihan Pabrik Rokok Retjo Pentung Tulungagung, Ada Kaitan Retjo Sewu?
" Denny niku SMA ket SMA minggah teng ITB lagek kulo tumbasne sepedah montor, koncone podo sepedahan montor" ucap pak mulyadi.
meskipun begitu pak mulyadi tetap mewajibkan anak- anaknya menggunakan bahasa krama alus kepada orang yang lebih tua darinya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra