TULUNGAGUNG - Di Kecamatan Ngantru, ada tradisi kupatan massal yang digelar oleh masyarakat setempat.
Kemeriahan sangat terlihat dalam agenda sedekah dan gotong royong mengisi Hari Raya Idul Fitri. Harapannya bisa menjadi ikon Tulungagung dari Kecamatan Ngantru
Desa-desa yang mengikuti kupatan masal adalah Desa Ngantru, Mojoagung, Batokan, Kepuhrejo, Banjarsari dan Srikaton.
Agenda tahunan ini harapannya bisa menjadi ikon Tulungagung, yang ada di Kecamatan Ngantru.
Awalnya, kupatan masal ini terinspirasi dari kupatan masal yang ada di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek.
Bahkan tahun lalu, pihak kecamatan mempelopori dengan membawa kupat terbesar.
"Yang jelas itu bukan sekedar makan ketupat atau lontong. Tapi juga ditampilkan beberapa kesenian sesuai dengan kearifan lokal," jelas Kades Batokan, Ir.H. Kuswanto.
Melalui kupatan masal, harapannya bisa melatih warga untuk bersedekah dan sebagai tolak balak, serta mempermudah mendapatkan rezeki.
Selain itu, juga menghidupkan UMKM setempat. Agenda tahunan ini selalu dinantikan masyarakat, bahkan dari luar Kecamatan Ngantru.
Ada banyak stan di masing-masing desa selama kupatan masal, yakni Desa Ngantru 31 stan, Desa Mojoagung 10 stan, Desa Batokan 16 stan, Desa Banjarsari 10 stan, Desa Kepuhrejo 8 stan, dan Desa Srikaton 27 stan.
Dibandingkan tahun lalu, kegiatan tahun ini lebih besar. Dari awalnya hanya 3 desa, tahun ini diikuti 6 desa. "Tahun ini lebih besar dan lebih meriah. Antusias masyarakat luar biasa dibandingkan tahun lalu," ungkap Kades Batokan.
Sementara itu, adanya kupatan masal yang merupakan inisiatif masyarakat, pihak Kecamatan Ngantru sangat mengapresiasi.
Kupatan masal ini merupakan kegiatan rutin dan positif di tengah masyarakat, karena menjadi bagian nguri-nguri budaya.
"Saya selaku Camat Ngantru , sangat mengapresiasi inisiatif warga yang begitu antusias mengadakan kupatan masal ini, karena di sisi lain juga merupakan kegiatan untuk melestarikan budaya Jawa ," jelas Camat Ngantru, Sumarji Kuswantoro, MM.
Untuk memeriahkan kupatan masal, rombongan Muspika Ngantru dan Kepala Desa berangkat dari Kantor Kecamatan Ngantru menggunakan kereta kelinci.
Rombongan meninjau setiap titik yang menggelar kupatan masal. Jalur yang dilalui adalah jalur jalan desa, sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas di jalur Provinsi maupun Kabupaten.
Rombongan Muspika Ngantru juga sempat mampir di rumah Abah Amu Sidik Amanah, pengasuh Ponpes Albadru Alaina di Desa Ngantru.
Dari tahun ke tahun, tren kupatan masal Kecamatan Ngantru terus meningkat. Harapannya, agenda kupatan masal di kecamatan Ngantru ini , akan menjadi ikon tradisi budaya Tulungagung di masa depan. (*/ynu)
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra