TULUNGAGUNG – Desa Tapan, Kecamatan Kedungwaru, memiliki ekosistem seni budaya yang baik dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakatnya.
Meski berada di kawasan industri, masyarakat Desa Tapan tidak melulu menggantungkan hidupnya ke pabrik saja. Melainkan juga pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor pariwisata desa.
Kepala Desa Tapan, Mugiono, mengungkapkan bahwa dirinya menjadi saksi perkembangan Desa Tapan selama satu dekade terakhir.
Sejak dilantik pertama kali pada 2013 lalu, Desa Tapan masih berstatus Desa Berkembang.
Lalu, naik tingkat sebagai Desa Maju pada 2019, dan akhirnya resmi menyandang status Desa Mandiri pada 2021 hingga sekarang.
“Tapan menjadi Desa Mandiri sejak 2021. Status ini berarti desa memiliki kemandirian, memiliki pendapatan asli desa (PADes) yang baik, dan peningkatan ekonomi masyarakat tercapai,” jelas Mugiono.
Mugiono membeberkan, secara umum, Desa Tapan berada di kawasan industri dengan banyaknya pabrik yang berdiri.
Sementara untuk sektor pertaniannya, sudah sulit dikembangkan dan selama ini hanya dimanfaatkan untuk tanaman tebu dengan sekali panen dalam setahun. Meski begitu, Pemdes Tapan tidak mau hanya menggantungkan perekonomian warganya pada pabrik saja.
Harus ada arah pembangunan yang berbasis kearifan lokal dan program pembangunan yang bersifat pemberdayaan.
“Yang kita ingin adalah mengembangkan kearifan lokal desa. Mengutamakan meningkatkan UMKM agar masyarakat tidak tergantung pada pabrik, meski Tapan sendiri merupakan kawasan industri,” katanya.
Salah satu potensi yang dimiliki Tapan adalah ekosistem seni budaya yang baik. Pun, di sana juga memiliki produk jaranan dan barongan yang diproduksi pelaku UMKM setempat.
Menurut Mugiono, ekosistem seni budaya yang baik itu sangat menunjang ekosistem perekonomian di Desa Tapan.
“Tahun ini kami juga ingin mengurus hak paten untuk lagu ciri khas desa berjudul Tapan Kumandang, serta tarian ciri khas Desa Tapan berjudul Ksatria Tapan,” katanya.
Untuk memaksimalkan potensi itu, Pemdes Tapan turut membangun sebuah wisata desa dengan nama Cemoro Barong. Masyarakat juga disediakan beberapa kios sebagai tempat berjualan.
“Semua program ini, inginnya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan menambah pendapatan asli desa (PADes). Sehingga mindset masyarakat dari menggantungkan ekonomi di pabrik, menjadi ke sektor UMKM,” tutup Mugiono. (nul/c1/rka)
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra