TULUNGAGUNG - Semasa era kerajaan, cikal-bakal Kabupaten Tulungagung tak lepas dari Kadipaten Ngrowo, Kalangbret.
Cikal-bakal itu membuat kabupaten yang dikenal dengan Kota Marmer ini kental dengan budaya dan kearifan lokal: legenda, upacara adat, hingga benda-benda cagar budaya, yang eksis hingga kini.
Berkaitan dengan legenda, nama Kiai Upas tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Tulungagung. Kiai Upas merupakan pusaka keramat yang asli dari Tulungagung.
Adanya sebuah pusaka Kiai Upas ini tentu menjadi suatu hal yang berharga bagi masyarakat Tulungagung. Kesadaran yang penuh mengenai keberadaan Pusaka Kiai Upas, telah mampu membuat para penjajah kolonial tidak masuk menjajah ke dalam wilayah Tulungagung.
Struktural dari Pusaka Kiai Upas berbentuk tombak dengan panjang landean 35 sentimeter dengan penyangga sepanjang 4 meter. Pada penyangga dari tombak tersebut juga terdapat sebuah ukiran.
Sebuah kalimat berlafazkan Allah dan Muhammad menjadi ciri khas dari Tombak Kiai Upas. Proses penyimpanan dengan berbalutkan kain Cinde yang bertujuan untuk menjaga kesucian dan nilai magisnya.
Banyak pembahasan mengenai mitos dan legenda dari Pusaka Kiai Upas. Beberapa literasi menjelaskan bahwa landean Tombak Pusaka Kyai Upas berasal dari lidah baru klinting yang berwujud naga telah dipotong oleh seorang mantan punggawa dari Kerajaan majapahit.
Punggawan dari Majapahit tersebut bernama Ki Wonosobo. Punggawan Ki Wonosobo juga seorang ayah dari Baru Klinting. Sedangkan Pegangan Tombak Kiai Upas sendiri terbuat dari badan Naga Baru Klinting yang berubah menjadi sebatang pohon besar.
Legenda tersebut mulai ketika telah berakhir dari kejayaan sebuah kerajaan Majapahit ditahan dan kawasan Tulungagung. Keadaan tersebut akhirnya membuat Ki Wonosobo keluar dari Kerajaan Majapahit.
Keluarnya Ki Wonosobo membuat beliau membuka sebuah hutan di daerah kawasan dekat Rawa Pening Ambarawa. Kegiatan pembukaan sebuah wilayah tersebut biasa disebut dengan kegiatan bersih desa oleh masyarakat saat ini.
Banyak sekali dari masyarakat sekitar yang membantu Ki Wonosobo. Termasuk dari kalangan perempuan yang membantu untuk menjadi juru masak di pawon atau dapur.
Namun Pada suatu ketika salah satu Juru masak yang ada tidak membawa pisau. Pada akhirnya juru masak tersebut berniat untuk meminjam pisau kepada Ki Wonosobo.
Sebuah syarat yang telah ditentukan Ki Wonosobo pisau tersebut telah dipinjamkannya kepada juru masak itu.
Sebuah ketentuan dan persyaratan yang mengharuskan bahwa jangan meletakkan pisau tersebut di atas pangkuan telah dilanggar oleh juru masak. Pelanggaran syarat yang terjadi telah membuat sebuah keajaiban.
Keadaan yang tak terduga terjadi dengan sebuah kehamilan yang dialami juru masak itu. Selang beberapa hari Ki Wonosobo mengetahui tentang keajaiban tersebut. Seorang perempuan yang hamil tanpa seorang suami sebab melanggar persyaratan yang beliau buat.
Berniat menutup rasa malu dan sedih yang terjadi sebab peristiwa itu, akhirnya Ki Wonosobo melangsungkan semedi di puncak gunung Merapi. Sebelum berangkat bersemedi Ki Wonosobo juga berpesan kepada istrinya.
Bahwasannya jika anak dalam kandungannya saat tumbuh menjadi dewasa dan menanyakan siapa sosok ayahnya, maka suruh anak tersebut menghampiri Ki Wonosobo dengan membawa sebuah lidi yang beliau titipkan kepada istrinya itu.
Lambat laun waktu yang terus berjalan. Akhir dari sebuah kehamilan yang dilalui juru masak, istri Ki wonosobo adalah seekor naga yang di beri nama Baru Klinting.
Masa waktu yang terus berlalu, Ki Wonosobo tetap melakukan semedi, sedangkan Baru Klinting bertumbuh terus menjadi besar. Pertumbuhan yang terjadi pada Baru Klinting, membuat dia juga merasa penasaran mengenai siapa ayahnya.
Singkat dari rasa penasaran tersebut, Baruh Klinting menyusul ayahnya yang berada di puncak Merapi. Namun sebuah tanda lidi, yang di pesankan Ki Wonosobo telah hilang saat perjalanan.
Ki Wonosobo tidak mau mengakui Baru Klinting. Rasa ambisi pada diri Baru Klinting yang terus menggebu, akhirnya Ki Wonosobo memberinya syarat terakhir. Pada syarat tersebut Baru Klinting harus mampu melingkari Gunung Wilis dengan tubuhnya.
Namun panjang badanya yang tidak cukup untuk melingkari gunung wilis, maka dari itu Baru Klinting menjulurkan lidahnya. Tanpa berpikir panjang Ki Wonosobo memotong lidah Baru Klinting dan pada akhirnya berubah menjadi landean Tombak Kiai Upas.
Baru Klinting yang terus lari ke arah selatan, akhirnya badanya berubah menjadi sebuah batang besar. Batang tersebut akhirnya dibuat dan di ukir oleh Ki Wonosobo sebagai pegangan tombak Kiai Upas.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra