TULUNGAGUNG - Kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) Segawe Tulungagung diprediksi hanya mampu menampung sampah hingga dua tahun ke depan.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tulungagung, Dedy Eka Purnama mengaku, TPA Segawe sudah terindikasi hampir penuh.
Jika dikalkulasikan produksi sampah harian dengan kapasitas total, maka pada 2026 TPA Segawe akan penuh.
Menurut Dedy, pihaknya sudah menerapkan berbagai upaya antisipasi gunungan sampah di TPA Segawe, beberapa di antaranya adalah menambah area pembuangan sampah dan memanfaatkan pemungut sampah (pemulung, Red) di TPA.
Namun, upaya-upaya itu ternyata tidak terlalu efektif, sebab produksi sampah dari masyarakat Tulungagung terus bertambah. Tak ayal, TPA Segawe mendekati overload.
Menyinggung produksi sampah di Tulungagung, Dedy menyebut, produksi sampah dari masyarakat mencapai ratusan ton per hari.
“Per hari ada 120 ton sampah yang masuk ke TPA Segawe. Kami sudah memanfaatkan semua lahan di TPA Segawe untuk menampung sampah, bahkan dibantu pemulung untuk memilah sampah. Tetapi belum efektif," jelasnya pada Jumat (21/6/2024).
Dengan kondisi ini, pihaknya memprediksi TPA Segawe hanya bertahan sampai 2026. Selebihnya TPA Segawe tidak dapat dioperasionalkan lagi.
Diketahui, TPA Segawe hanya untuk tempat pembuangan akhir. Tidak ada fasilitas khusus untuk mengolah sampah, sehingga gunungan sampah semakin tinggi.
"Sejak awal keberadaan TPA Segawe memang hanya untuk menimbun sampah. Di sana tidak ada pengolahan sampah secara modern, seperti ruangan khusus untuk membakar sampah," ucapnya.
Menanggapi persoalan TPA Segawe, Dedy berjanji tetap berupaya mencari solusi yang terbaik. Harapannya, TPA Segawe lebih berumur panjang.
Sedangkan, salah satu upaya terbaru adalah membangun Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). Baru-baru ini rencana itu sudah disetujui Pj Bupati Tulungagung.
Dalam mekanismenya, TPST nantinya bisa memusnahkan sampah, sehingga dapat mengurangi intensitas sampah yang masuk.
Selain itu, TPST ke depan sudah diproyeksikan memiliki daya tampung 50 ton sampah per hari.
“Awalnya rencana kami dulu membangun TPA kedua di Banyu Urip. Tetapi pada prosesnya terhalang Amdal. Kemudian kami punya ide lagi yakni TPST, dan alhamdulillah sudah direspons positif bahkan disediakan tempat pakai aset Pemkab Tulungagung," paparnya.
Kemudian ihwal lokasi, Pemkab Tulungagung sudah menyediakan lima lokasi. Namun hanya satu tempat ideal, itu berada di sebelah barat Pasar Hewan Terpadu (PHT).
Dedy mengaku, penilaian tempat ideal itu karena lahan berada di lokasi yang jauh dari pemukiman, sehingga operasional TPST tidak akan mengganggu masyarakat.
Meski demikian, pihaknya belum tahu pasti kapan pembangunan TPST tersebut bisa direalisasikan, lantaran pembangunan TPST memerlukan anggaran yang fantastis.
Hanya saja, pihaknya akan berupaya untuk membangun TPST sebelum TPA Segawe benar-benar overload.
“Kendalanya anggaran, perhitungan kami, itu perlu Rp 15 miliar. Kami masih berusaha mencari entah itu dari Pemerintah Provinsi atau pusat, atau bahkan bisa saja kerjasama dengan investor," pungkasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra