Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Alih Fungsi Lahan di Wilayah Selatan Tulungagung Jadi Sorotan

Aditya Yuda Setya Putra • Jumat, 5 Juli 2024 | 21:52 WIB
Potensi sampah di Kawasan JLS Tulungagung tinggi, lantaran masih satu laporan tentang pengelolaan sampah mandiri.
Potensi sampah di Kawasan JLS Tulungagung tinggi, lantaran masih satu laporan tentang pengelolaan sampah mandiri.

TULUNGAGUNG - Alih fungsi lahan di wilayah selatan Tulungagung jadi sorotan jajaran DPRD Tulungagung dan akademisi.

Guna memastikan kerusakan lingkungan tak kian meluas, dewan menginisiasi rapat dengar pendapat dengan Ikatan Alumni (IKA) Unair Tulungagung, Kamis (4/7/2024) lalu.

Ketua DPRD Tulungagung, Marsono menerangkan bahwa upaya konservasi di wilayah selatan sudah diprogramkan sejak beberapa tahun lalu.

"Makanya harus ada konsolidasi berkelanjutan. Ada biopori untuk suburkan tanah. Sehingga, tidak ada musibah di wilayah Campurdarat dan sekitarnya," ucapnya.

Salah satu implementasi pada program yang dimaksud adalah penyediaan pupuk organik bagi para petani.

Hal ini bertujuan untuk mendorong petani beralih dari penggunaan pupuk anorganik ke pupuk organik.

"Ketika bicara kesuburan tanah, maka yang digunakan adalah pupuk organik, ini sudah diadakan dan bahkan gratis," ujarnya.

Dia menerangkan, salah satu upaya yang dilakukan adalah memulai optimalisasi penggunaan pupuk kandang.

Selain dapat menjaga kesuburan tanah, hal ini juga dilakukan untuk mengurangi volume limbah dari usaha peternakan.

"Untuk mengatasi limbah kandang yang melimpah di Sendang, pupuk dari kotoran ternak kita bawa ke Tanggunggunung dan sekitarnya. Itu sudah dilakukan, tapi harus diakui hasilnya belum maksimal, dan ini perlu lebih digenjot," ucap Marsono.

Selain itu, pendekatan ke masyarakat juga diupayakan. Hal ini harus dilakukan bersama seluruh pihak yang terkait.

Teknisnya, pemerintah melakukan sosialisasi dan edukasi ke kelompok tani.

Anggota kelompok tani yang terlibat program ini nantinya juga diarahkan untuk melakukan edukasi ke kelompok lain di sejumlah wilayah.

"Lakukan edukasi dengan membentuk kelompok. Lalu, kelompok itu kita jadikan ikon, misalnya di Tenggarejo. Dengan begitu program ini akan membias ke daerah lain. Sejauh ini sudah ada beberapa binaan. Di antaranya ada di Kalidawir dan Pucanglaban," sebut politisi partai berlogo banteng, PDI Perjuangan ini.

Meski begitu, dia berharap hal ini mendapat dukungan dari banyak pihak. Baik dari jajaran eksekutif, akademisi, kelompok masyarakat, kelompok tani, maupun masyarakat secara umum. Sebab, upaya konservasi wilayah selatan merupakan kewajiban bersama.

"Kita tidak bisa langsung turun karena kita bukan eksekutif. Nanti malah nyebrang tupoksi. Karena itu program ini harus dibahas bersama," tegasnya.

Ketua Panitia Amerta IKA Unair, M. Fauzi Setiawan mengungkapkan, kegiatan kemarin bukan dalam rangka menyuarakan tuntutan. Melainkan sebagai ajakan kolaborasi kepada DPRD untuk membuat ekosistem yang lebih baik wilayah selatan Tulungagung.

"Karena kita lihat kondisi alam di selatan sudah rusak. Kami juga menganalisis penyebab dan cara mengembalikan kesuburan tanah," jelasnya.

Hasilnya, perubahan kawasan hutan menjadi lahan pertanian jagung disebut jadi alasan utama kerusakan ekosistem.

Buntutnya, bencana alam berupa banjir tak jarang terjadi begitu memasuki musim penghujan. Kondisi ini jamak dijumpai di daerah dataran rendah di wilayah Campurdarat, Tanggunggunung, dan sekitarnya.

"Kalau banjir bukan hanya air, tapi juga bawa lumpur di daerah yang ada di bawahnya. Karena tidak ada tumbuhan yang mengikat air hujan di daerah atas," lanjutnya.

Penggunaan pupuk nonorganik juga ditengarai menyumbang kerusakan tanah. Itu menyebabkan tingkat kesuburan tanah di wilayah selatan terus mengalami penurunan. Fauzi menyebut, perlu dilakukan pendekatan ke masyarakat atau petani hutan agar terdorong untuk memanfaatkan pupuk organik.

"Pasti harus melibatkan masyarakat. Perlu upaya bersama untuk mengolah lahan," ujar laki-laki berkacamata ini.

Dia menegaskan, pemangkasan jumlah lahan tanaman jagung secara ekstrim bukan jadi langkah yang tepat. Yang perlu disosialisasikan dalam hal ini adalah memperbanyak varietas tanaman di hutan. Dia menyebut, dalam hal ini jajaran legislatif dan eksekutif punya peran penting.

"Justru harus ditanam secara homogen. Minimal tiga jenis. Misal, ada jagung, tanaman tegakan, dan tanaman untuk pakan ternak. Jadi, semua ada porsinya," sebutnya. (dit)

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#wilayah selatan #dprd tulungagung #konservasi