TULUNGAGUNG – Optimalisasi hasil panen petani Kabupaten Tulungagung penting dilakukan. Itu sebabnya PT Pupuk Indonesia dan Dinas Pertanian Tulungagung menggelar rapat koordinasi penyaluran pupuk bersubsidi pada Jumat (12/7/2024) lalu.
Agenda itu juga jadi wadah bagi para pelaku pertanian dalam menyuarakan aspirasinya.
Ratusan peserta berlatar kelompok tani, pemilik kios pertanian, hingga balai penyuluh pertanian (BPP) dihadirkan di gedung KH Syaifuddin Zuhri, UIN Sayyid Ali Rahmatullah.
Agenda kemarin juga menghadirkan perwakilan jajaran Kejaksaan, TNI, dan Polri sebagai narasumber.
Kepala Dinas Pertanian Tulungagung, Suyanto mengungkapkan bahwa wilayah Tulungagung diberi tambahan pupuk bersubsidi oleh pemerintah.
Itu sebabnya perlu dilakukan sosialisasi bagi para pelaku pertanian agar proses penyerapan berjalan maksimal.
“Tujuannya agar kita semua bisa satu persepsi dan punya bahasa yang sama dalam penyaluran pupuk bersubsidi di Tulungagung. Kami juga sampaikan teknis penyerapan mulai dari SOP dan tahapan lain agar nanti bisa berjalan lancar,” jelasnya.
Secara teknis, ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh konsumen selama proses penyerapan pupuk.
Nah dalam hal ini dinas dan PT Pupuk Indonesia menerima sejumlah laporan terkait adanya kendala.
Itu sebabnya, para peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasi kepada para pemangku kebijakan soal kendala yang dialami di lapangan.
“Misal, untuk ambil pupuk kan KTP dan orangnya harus difoto. Tapi, hal ini boleh diwakilkan asal dengan surat kuasa. Banyak yang menanyakan masalah ini karena ada sejumlah kendala. Karena itu hari ini mereka kita fasilitasi agar mereka bisa menyampaikan sendiri apa yang terjadi di lapangan,” ujarnya.
Disinggung soal jumlah serapan pupuk, Suyanto mengaku bahwa realisasi serapan pupuk urea mencapai 45 persen dan pupuk NPK sebanyak 40 persen di bulan ini. Meski terbilang cukup baik, dia menilai hal ini masih harus didorong.
“Karena kuota juga bertambah. Jadi, semua harus jelas tersampaikan,” ucapnya.
Assistant Account Executive PT Pupuk Indonesia Wilayah Tulungagung, Endra Kurniawan menerangkan, optimalisasi penyerapan memang harus dilakukan.
Ada waktu beberapa bulan ke depan yang harus dimanfaatkan untuk menggenjot produktifitas petani.
“Intinya adalah bagaimana upaya kita dengan sisa bulan yang ada dimanfaatkan untuk menyelesaikan alokasi yang diberikan. Kita gali dulu masalah yang muncul untuk diatasi,” terangnya.
Dia juga menyinggung adanya fenomena kelangkaan pupuk yang disebabkan oleh kesalahan dalam input data di tingkat kios dan konsumen.
Hal itu bisa diminimalkan jika kedua pihak bisa saling berkoordinasi dan terbuka dalam penyampaian informasi.
“Karena itu tujuan kita hari ini adalah untuk menyamakan persepsi agar jangan sampai ada petani tidak mendapat pupuk bersubsidi,” katanya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra