TULUNGAGUNG - Butuh sebuah gebrakan dan aksi nyata untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Tulungagung secara berkelanjutan.
Salah satu gebrakan itu adalah focus group discussiun (FGD) bertema pembangunan ekonomi pedesaan yang berkelanjutan yang dilaksanakan Rabu (28/8/2024).
Komponen pentahelix mulai dari pemerintah daerah, akademisi, badan/pelaku usaha, masyarakat/komunitas serta media berkumpul di Azana Hotel Tulungagung rabu sore.
Ada satu hal strategis yang dibahas dalam FGD itu, yaitu inisiasi pembangunan ekonomi di pedesaan yang berkelanjutan.
Founder Yayasan Inovasi Agrikultur Indonesia (Inori) sekaligus anggota DPRD Tulungagung, Rijal Abdulloh menjelaskan tidak mungkin untuk mengembangkan ekonomi pedesaan dari satu unsur saja.
Semua unsur harus melebur, bersatu, dan bersama-sama bergerak mewujudkan rencana mulia ini.
“Ini kita sebenarnya menyambut kajian dari BRIDa Tulungagung tentang policy research bahwa perlu ekosistem enterpreneur di desa-desa untuk menumbuhkan perekonomian,” jelas Rijal.
Menurut Rijal, yang menjadi leading sector dari ekosistem enterpreneur di desa adalah Bumdes.
Karena, Bumdes sangat kuat secara kelembagaan. Ketika dioptimalkan, Bumdes bisa menjadi payung ekonomi masyarakat desa.
“Bumdes secara legal boleh menerima hibah dari pemerintah daerah, kerjasama dengan pihak ketiga, bahkan bisa bekerjasama dengan aktor-aktor ekonomi lainnya. Jadi secara kelembagaan Bumdes sangat kuat sekali,” katanya.
Dengan menggerakan dan mengoptimalkan Bumdes, goalsnya adalah peningkatan ekonomi masyarakat desa secara keseluruhan. Masyarakat desa akan menjadi partisipan.
Sebagai langkah konkrit, setelah ini akan dilaksanakan lagi FGD dengan mengajak Pemdes.
“Karena pembangunan ekonomi merupakan jalan panjang. Fikiran saya itu 2-3 tahun bisa terealisasi rencana ini. Sekarang kita masih menyiapkan regulasi, menyiapkan SDM dan yang lainnya,” katanya.
Sekda Tulungagung Tri Hariadi menyandarkan harapan besar atas apa yang telah diinisiasi oleh yayasan Inori ini.
Dengan sasaran generasi muda, yang paling penting adalah merubah maindset bahwa pertanian memang memerlukan inovasi.
“Inovasi termasuk menggunakan teknologi dalam pemasarannya. Itu yang perlu diintervensi, harus ada kerja sama antara Pemkab dan DPRD untuk membuat kebijakan daerah untuk mengembangkan pertanian di Tulungagung,” jelasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra