TULUNGAGUNG - Penurunan harga ikan gurami dalam beberapa waktu terakhir jadi sorotan Dinas Perikanan (Diskan) Tulungagung. Pasalnya, kondisi ini dikhawatirkan jadi salah satu faktor pemicu naiknya inflasi.
Kepala Diskan Tulungagung, Lugu Tri Handoko mengungkapkan, penurunan harga ikan gurami terpantau turun sejak tiga bulan terakhir. Yakni, hanya mencapai sekitar Rp 26-27 ribu per kilogram (kg). "Harga itu termasuk rendah. Sebab, harga normal ikan gurami itu Rp 28-30 ribu per kg," tegasnya.
Sedangkan, harga harga gurami kering di kondisi normal mencapai sekitar Rp 22-33 ribu per kg. Itu sebabnya, kata Lugu, dalam tiga bulan terakhir para petani atau pembudi daya ikan gurami di Tulungagung dirugikan.
"Kalau dengan harga yang sekarang, istilahnya para petani mung balik modal (hanya balik modal saja, Red). Tidak untung. Padahal, biaya produksi cukup tinggi," jelasnya.
Nah, dalam sepekan terakhir, harga ikan gurami juga terpantau naik sekitar Rp 1000 dari harga awal. Meski begitu, Lugu pesimis peningkatan harga yang belum terbilang signifikan iki bakal berdampak besar pada para pelaku budi daya. "Belakangan memang naik harganya. Tapi, kalau cuma segitu ya masih terbilang rugi," sambungnya.
Turunnya harga ikan di pasaran disinyalir akibat adanya permainan harga yang dilakukan oleh oknum supplier di luar kota. Para oknum memaksa petani menjual ikan hasil produksi dengan harga murah.
Karena tak punya pilihan, sebagian besar petani ikan gurami memilih mengiyakan tawaran supplier "nakal". Buntutnya, para produsen justru merugi. "Supplier yang nakal itu memaksa petani jual murah. Kalau tidak mau, mereka tidak mau beli. Jadi, petani tentu tidak punya pilihan lain," ungkapnya.
Karena harga di pasaran saat ini masih jauh dari kata normal, Lugu mengimbau para pembudi daya ikan gurami mengurangi ongkos produksi. Salah satunya dengan memvariasikan jenis pakan ikan.
Selain menggunakan pakan khusus, para pembudi daya juga bisa memanfaatkan tumbuh-tumbuhan sebagai pakan ikan gurami. “Jujur ini sulit ya. Soalnya indikasi permainannya di luar kota. Jadi, kami hanya bisa mengimbau agar para petani ikan di Tulungagung mulai beralih pakan. Variasikan dengan daun-daunan. Dengan begitu, biaya produksi juga bisa ditekan," ujar Lugu.
Disinggung soal potensi banyaknya pembudi daya gurami yang gulung tikar, Lugu mengaku kondisi itu bisa saja tejadi. Itu sebabnya, para pelaku budi daya harus didorong agar mulai beralih jenis pakan.
"Kalau sampai kukut (bangkrut, Red) saya rasa bisa dicegah. Sebab, jenis ikan gurami itu tidak memiliki kecenderungan terhadap pakan tertentu. Ikan ini bisa makan apa saja. Karena itu, bisa mulai diselingi pakannya," pungkasnya. ***
Editor : Dharaka R. Perdana