TULUNGAGUNG - Selain menjadi tempat liburan keluarga, taman aloon-aloon Tulungagung juga memiliki beberapa keindahan, salah satunya burung merpati.
Burung merpati menjadi salah satu daya tarik pengunjung saat menginjakkan kaki di taman.
Pengunjung akan disuguhkan ratusan merpati yang bertebangan di atasnya.
Daya tarik tersebut mulai ada sejak pemerintahan Heru Cahyono yang menjabat sebagai Bupati Tulungagung masa itu.
Inisiatif ini muncul memang disengaja oleh pemerintah Kabupaten Tulungagung sebagai daya tarik tersendiri di taman aloon-aloon.
Pengawas lapangan taman aloon-aloon Jainuri mengatakan, awalnya jumlah merpati di sana hanya 50 ekor dan bertambah setiap tahunnya.
Sekarang jumlah keseluruhannya mencapai 500 ekor lebih yang terbagi dalam 10 kandang (pagupon).
“Dulu awalnya hanya 50 ekor saja” ucapnya.
Dalam perawatannya Jainuri menjelaskan bahwa dulu setiap minggu ada pengecekan kesehatan merpati dengan cara menyemprotkan cairan khusus untuk menjaga kesehatan merpati.
Meskipun jumlahnya mencapai ratusan, kondisi lingkungan taman tetap terjaga kebersihannya.
Setiap petugas kebersihan memiliki tanggung jawab untuk membersihkan setiap sudut lingkungan yang kotor termasuk kotoran burung merpati.
“Ya pasti ada dampak, tapi gimana lagi ya kita sebagai pembersih ya tetap dibersihkan,”akunya.
Bagi pengunjung tebaran merpati menjadi hiburan saat berkunjung di taman aloon-aloon.
Pengunjung dapat memberi pakan jagung yang dapat dibeli dari penjual kaki lima.
Pengunjung cukup merogoh kocek sebesar Rp 1000 untuk satu bungkus pakan.
Berdasarkan pengakuan Arif salah satu pengunjung taman, ia menjelaskan bahwa adanya merpati di taman dapat membawa suasana tersendiri.
Rasa senang muncul saat melihat anak-anaknya bermain sambil memberi pakan merpati.
“Perasaannya senang, tenang gitu bisa jadi hiburan anak-anaknya gitu,” kata Arif.
Jainuri juga mengatakan bahwa merpati sebagai daya tarik ini juga berdampak terhadap perekonomian warga sekitar.
Banyak pedagang kaki lima yang berjualan pakan dan meraup banyak keuntungan.
“Burung merpati itu ya, pertama untuk daya tarik pengunjung, yang kedua untuk pedagang, dulu belum ada pedagang jagung,” ujar Jainuri.
Menurut Suwati salah satu pedagang pakan di sana, ia mengaku bahwa dalam satu hari dapat menjual sampai 60 bungkus pakan yang dijual bersama anaknya.
Suwati hanya membutuhkan jagung 2 kg untuk dijadikan 60 bungkus.
“Paling sehari habis 2 kilogram (kg) sama anaknya,” Ucap Suwati.
Perasaan senang pedagang kaki 5 muncul saat hari Sabtu – Minggu, karena pengunjung meningkat saat akhir pekan sehingga menyebabkan penjualan pakan merpati menjadi naik. Paling rame ya di hari Sabtu Minggu,” pungkas Alexander salah satu penjual pakan.***
Reporter: Muhammad Atok Ulaziz, Sofiya Putri Anggraini
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra